Oleh: Mahbub Fauzie , Pemerhati Sosial Kemasyarakatan dan Generasi Muda, ASN Kemenag.
Aceh bukan hanya dikenal karena kekayaan sejarah dan budayanya, tetapi juga karena identitasnya sebagai daerah yang menerapkan Syariat Islam. Karena itu, berbicara tentang masa depan Aceh sesungguhnya tidak dapat dilepaskan dari wajah anak mudanya, masjidnya, dan kedekatannya dengan shalat.
Anak muda adalah energi masa depan. Mereka memiliki keberanian, idealisme, daya kritis, dan kemampuan menggerakkan perubahan. Tetapi energi itu akan menjadi kekuatan yang membawa kemaslahatan apabila dibimbing oleh ilmu, akhlak, dan nilai-nilai agama.
Di sinilah masjid memiliki peran yang sangat penting.
Masjid bukan sekadar bangunan tempat melaksanakan ritual keagamaan. Masjid adalah ruang pendidikan akhlak, tempat membangun persaudaraan, menenangkan jiwa, dan belajar menundukkan ego. Dari masjid seharusnya lahir generasi yang berani menyampaikan pendapat, tetapi tetap santun; kritis terhadap keadaan, tetapi tidak kehilangan adab; memperjuangkan keadilan, tetapi tidak merusak kehormatan dan kedamaian.
Karena itu, ukuran kesalehan anak muda tidak cukup dilihat dari keberanian berbicara tentang agama. Salah satu ukurannya justru terlihat dari bagaimana ia memperlakukan masjid dan bagaimana ia merespons panggilan shalat.
𝐊𝐞𝐭𝐢𝐤𝐚 𝐚𝐳𝐚𝐧 𝐛𝐞𝐫𝐤𝐮𝐦𝐚𝐧𝐝𝐚𝐧𝐠, 𝐬𝐞𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐌𝐮𝐬𝐥𝐢𝐦 𝐬𝐞𝐝𝐚𝐧𝐠 𝐝𝐢𝐩𝐚𝐧𝐠𝐠𝐢𝐥 𝐨𝐥𝐞𝐡 𝐀𝐥𝐥𝐚𝐡
Adab terhadap azan sangat sederhana, tetapi sarat makna. Kita dianjurkan menghentikan kesibukan sejenak, mendengarkan azan, menjawab lafaz muazin sebagaimana tuntunan, kemudian membaca shalawat dan doa setelah azan. Setelah itu, langkah diarahkan menuju shalat.
Mungkin tampak sederhana. Tetapi dari kebiasaan sederhana itulah karakter dibentuk.
Orang yang terbiasa menghormati azan sedang belajar menghormati waktu. Orang yang membiasakan diri datang ke masjid sedang belajar disiplin. Orang yang berdiri dalam satu saf bersama orang lain sedang belajar kesetaraan. Dan orang yang bersujud sedang belajar bahwa setinggi apa pun kedudukan manusia, di hadapan Allah ia tetap seorang hamba.
Maka menjadi anak muda Aceh yang modern tidak berarti harus jauh dari masjid. Menjadi kritis tidak berarti meninggalkan shalat. Menyampaikan aspirasi tidak harus kehilangan akhlak. Bahkan idealnya, semakin tinggi keberanian seseorang menyuarakan perubahan, semakin tinggi pula adab dan tanggung jawabnya.
Aceh membutuhkan anak muda yang tidak apatis terhadap persoalan bangsa dan daerah. Tetapi Aceh juga membutuhkan generasi yang tidak mudah terseret emosi, provokasi, kebencian, atau tindakan yang merugikan diri sendiri dan orang lain.
𝐌𝐚𝐬𝐣𝐢𝐝 𝐡𝐚𝐫𝐮𝐬 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐭𝐞𝐦𝐩𝐚𝐭 𝐩𝐮𝐥𝐚𝐧𝐠 𝐛𝐚𝐠𝐢 𝐚𝐧𝐚𝐤 𝐦𝐮𝐝𝐚
Di sana mereka boleh berdiskusi tentang masa depan Aceh. Boleh membicarakan keadilan, pendidikan, ekonomi, politik, kemiskinan, lingkungan, bahkan berbagai persoalan kebangsaan. Namun semuanya dibingkai oleh adab dan akhlak.
Sebab Islam tidak hanya mengajarkan apa yang diperjuangkan, tetapi juga bagaimana cara memperjuangkannya.
Dalam tradisi Islam, tujuan yang baik tidak serta-merta membenarkan cara yang buruk. Aspirasi harus disampaikan dengan hikmah. Perbedaan harus dikelola dengan kedewasaan. Kemarahan harus dikendalikan. Dan tempat-tempat yang dimuliakan harus dijaga kehormatannya.
Inilah tantangan besar pendidikan generasi muda Aceh ke depan. Jangan sampai anak-anak muda mengenal simbol-simbol agama, tetapi kehilangan substansi akhlaknya. Jangan sampai kita bangga menyebut Aceh sebagai negeri bersyariat, tetapi sebagian generasinya justru semakin jauh dari masjid dan shalat.
𝐒𝐲𝐚𝐫𝐢𝐚𝐭 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐡𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐭𝐚𝐦𝐩𝐚𝐤 𝐩𝐚𝐝𝐚 𝐚𝐭𝐮𝐫𝐚𝐧. 𝐈𝐚 𝐡𝐚𝐫𝐮𝐬 𝐭𝐞𝐫𝐥𝐢𝐡𝐚𝐭 𝐝𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐩𝐞𝐫𝐢𝐥𝐚𝐤𝐮
Ia tampak ketika seorang pemuda menghormati orang tua. Ketika ia menjaga lisannya. Ketika ia tidak merusak fasilitas umum. Ketika ia menghargai perbedaan. Ketika ia menolong yang lemah. Ketika ia jujur. Dan ketika azan terdengar, ia tahu bahwa ada panggilan yang lebih tinggi daripada kepentingan sesaat: hayya ‘alash-shalah—mari menunaikan shalat.
Barangkali kita perlu menghidupkan kembali masjid dengan cara yang lebih dekat dengan anak muda. Masjid jangan hanya menjadi tempat mereka datang ketika Ramadan atau ketika ada acara tertentu. Masjid perlu menjadi ruang tumbuh: tempat belajar, berdiskusi, berkarya, berorganisasi, sekaligus memperkuat spiritualitas.
Jika masjid hidup, insyaallah generasi akan hidup. Jika shalat dijaga, insyaallah karakter akan terjaga.
Dan jika anak muda tumbuh bersama masjid, kita memiliki harapan bahwa Aceh bukan hanya akan menjadi negeri yang bersyariat secara administratif, tetapi juga negeri yang masyarakatnya memancarkan nilai-nilai syariat dalam kehidupan sehari-hari.
Sebab masa depan Aceh tidak hanya ditentukan oleh siapa yang memegang jabatan hari ini, tetapi juga oleh anak-anak muda yang kelak memegang amanah itu.
Dan mungkin, pembentukan masa depan itu dapat dimulai dari sesuatu yang sangat sederhana:
Ketika azan terdengar, kita berhenti sejenak dari kesibukan, menjawab panggilan-Nya, lalu melangkah menuju masjid.
Dari sana, mudah-mudahan lahir generasi Aceh yang kuat pikirannya, lembut hatinya, santun adabnya, dan teguh shalatnya.[]
Redaksi : acehnarasi.com





