Nasir Djamil Dorong Warung Kopi di Aceh Jadi Ruang Diskusi dan Bedah Buku

oleh -121 Dilihat
Penulis Buku Perang dan Damai,Yunidar ZA Bersama Anggota DPR RI Fraksi PKS, Dr. H. M. Nasir Djamil, M.Si.

JAKARTA, acehnarasi.com – Anggota Komisi III DPR RI dari daerah pemilihan Aceh, Dr. H. M. Nasir Djamil, M.Si., mendorong pemanfaatan warung kopi di Aceh sebagai ruang diskusi dan bedah buku guna memperkuat budaya literasi di tengah masyarakat.

Gagasan tersebut disampaikan Nasir Djamil saat menerima kunjungan silaturahmi Analis Kebijakan sekaligus penulis, Yunidar ZA, di Gedung Nusantara I lantai 4, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (7/10/2026).

Menurut Nasir, pembangunan Aceh membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat. Kolaborasi antara pemerintah, kalangan intelektual, penulis, mahasiswa, dan komunitas literasi dinilai penting untuk melahirkan gagasan konstruktif bagi kemajuan daerah dan kesejahteraan rakyat.

Ia menilai, warung kopi memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi ruang pertukaran gagasan. Selain menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat Aceh, warung kopi juga dapat dimanfaatkan sebagai tempat membahas buku, mendiskusikan isu-isu aktual, serta mempertemukan penulis dengan pembaca.

“Warung kopi di Aceh bisa menjadi ruang diskusi dan bedah buku. Dengan begitu, budaya membaca dan tradisi bertukar gagasan dapat tumbuh di tengah masyarakat,” demikian gagasan yang disampaikan dalam pertemuan tersebut.

Nasir juga menilai, pengembangan ruang diskusi berbasis komunitas dapat membuka peluang bagi penulis, pegiat literasi, dan penerbit lokal untuk memperluas jangkauan karya mereka. Kehadiran forum-forum literasi di warung kopi diharapkan tidak hanya meningkatkan minat baca, tetapi juga mendorong lahirnya karya intelektual yang relevan dengan kebutuhan masyarakat Aceh.

Perhatian khusus turut diberikan kepada kalangan mahasiswa. Nasir berharap mahasiswa tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga aktif menghasilkan tulisan, termasuk resensi buku, serta terlibat dalam diskusi kritis mengenai gagasan dan pemikiran yang berkembang.

Menurutnya, tradisi membaca, menulis, dan berdiskusi merupakan bagian penting dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Kampus dan komunitas literasi perlu mengambil peran strategis untuk membentuk generasi muda yang kritis, berwawasan luas, dan mampu menawarkan solusi terhadap berbagai persoalan daerah.

Dalam kesempatan itu, Nasir menyampaikan apresiasi kepada para penulis dan kalangan intelektual yang terus berkontribusi bagi pembangunan Aceh. Ia memandang kerja-kerja intelektual memiliki arti penting dalam menyiapkan generasi kepemimpinan masa depan yang berintegritas, berpengetahuan, dan memiliki kepedulian terhadap masyarakat.

Kepemimpinan yang berkualitas, lanjutnya, dibutuhkan untuk menjaga keberlanjutan perdamaian sekaligus memastikan pembangunan Aceh berjalan secara inklusif dan berorientasi pada peningkatan kesejahteraan rakyat.

Nasir Djamil merupakan politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang mewakili Aceh di DPR RI. Ia bertugas di Komisi III DPR RI yang membidangi penegakan hukum, hak asasi manusia, dan keamanan. Sejumlah isu strategis Aceh, termasuk pelaksanaan otonomi khusus dan penanganan pengungsi Rohingya, menjadi bagian dari persoalan daerah yang mendapat perhatian di tingkat nasional.

Sementara itu, Yunidar ZA merupakan Analis Kebijakan yang aktif menulis. Ia telah menghasilkan sejumlah karya, di antaranya buku Perang dan Damai dan Analisis Framing Media Massa.

Gagasan menjadikan warung kopi sebagai ruang literasi diharapkan dapat menjadi salah satu langkah membangun ekosistem intelektual yang lebih kuat di Aceh, dengan menghubungkan tradisi berkumpul masyarakat, budaya membaca, dan pertukaran pemikiran secara produktif. (jun)

Redaksi : acehnarasi.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.