Ismail Rasyid

oleh -69 Dilihat
Yunidar ZA bersama Ismail Rasyid pada wisuda Program Doktor pada Sidang Terbuka Senat Institut Transportasi dan Logistik Trisakti (ITL Trisakti) Tahun Akademik 2025/2026.

Oleh : Yunidar Z.A.

Analis Kebijakan dan penulis buku Perang dan Damai

Ada perjumpaan yang meninggalkan kesan lebih mendalam daripada pertemuan biasa. Bukan semata-mata karena sosok yang kita jumpai, melainkan juga karena pelajaran yang bisa dipetik dari perjalanan hidupnya.

Bagi saya, Ismail Rasyid—yang saya sapa Bang Is—CEO PT Trans Continent, merupakan sosok yang memberi banyak pelajaran tentang pendidikan, kepemimpinan, persahabatan, serta kepedulian terhadap pembangunan daerah, khususnya tanah kelahirannya, Aceh.

Saya mengenal Bang Ismail bukan hanya sebagai seorang senior, tetapi juga sebagai pribadi yang percaya pada pentingnya belajar sepanjang hayat (lifelong education). Filosofinya sederhana: “lifelong education,” ujarnya. Menuntut ilmu sejak dari ayunan hingga ke liang lahat.

Dalam berbagai percakapan, ia kerap mengingatkan bahwa pengalaman dan keberhasilan tidak semestinya membuat seseorang berhenti belajar. Sebaliknya, semakin besar tanggung jawab yang diemban, semakin penting pula memperluas pengetahuan dan memperbarui cara berpikir.

Semangat itu terasa semakin berarti ketika melihat perjalanan pendidikannya yang tetap berjalan seiring dengan aktivitas profesional. Ia memperlihatkan bahwa pendidikan bukan sekadar mengejar gelar akademik, melainkan proses memperkuat kapasitas diri agar sanggup menghadapi perubahan zaman.

Wisuda dan Makna Sebuah Perjalanan

Pada Rabu, 28 Oktober 2026, saya mendapat kehormatan diundang Bang Is untuk menghadiri prosesi wisuda Tahun Akademik 2025/2026 Institut Transportasi dan Logistik Trisakti (ITL Trisakti), yang berlangsung di Jakarta International Convention Center (JICC), Senayan, Jakarta.

Prosesi wisuda berlangsung khidmat dan dihadiri beragam kalangan, mulai dari pengusaha, pelaku bisnis, birokrat, hingga pejabat pemerintahan yang hadir bersama para wisudawan. Di tengah kesibukan dan tanggung jawab profesional, pencapaian akademik menjadi pengingat bahwa kesempatan untuk terus belajar tidak mengenal kata terlambat.

Namun, kesan yang paling membekas justru saya rasakan dalam suasana kebersamaan setelah prosesi wisuda. Saya diundang menikmati makan siang bersama keluarga Bang Ismail dalam perayaan syukur yang sederhana dan terbatas.

Saya merasa terhormat dapat hadir dalam momen tersebut. Undangan itu bukan sekadar ajakan makan bersama, tetapi juga cerminan penghargaan terhadap persahabatan yang telah terjalin.

Saya menyaksikan Bang Ismail bersama istri dan anaknya, Jibril Gibran, M.Sc. (Komisaris PT Trans Continent), menyambut dan memberi perhatian kepada para tamu.

Sikap tersebut mengingatkan saya pada kebiasaannya menyambut kolega, sahabat, dan tamu yang datang ke kantor pusat Trans Continent di Tebat dengan ramah. Ia menawarkan dan membuatkan secangkir kopi bagi pengunjung. “Nyoe kupi mangat,” ujarnya, sembari menggiling dan meracik kopi menggunakan mesin modern, lalu berbagi pengalaman yang dapat menjadi pelajaran bagi orang lain.

Hal sederhana seperti itu menunjukkan bahwa kepemimpinan Bang Is tidak hanya terlihat dari kemampuannya mengambil keputusan atau mengelola perusahaan, tetapi juga dari caranya memperlakukan orang lain. Kesediaan mendengarkan, berbagi, dan menjalin komunikasi merupakan bagian penting dari karakter seorang pemimpin.

Persahabatan dan Kepedulian terhadap Aceh

Saya mulai mengenal Bang Ismail, Ketua Umum Ikatan Keluarga Alumni Unsyiah (IKA), sekitar tahun 2019. Pada waktu yang hampir bersamaan, saya dipercaya menjadi Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Pascasarjana Aceh Jakarta (IMPAS). Saat itu, kami memiliki ruang pertemuan melalui perhatian yang sama terhadap pembangunan, perdamaian, dan kesejahteraan Aceh.

Yunidar dan Ismail

Bang Ismail memperlihatkan ketertarikan terhadap gagasan dan pemikiran untuk memajukan daerah. Kepedulian itu tidak berhenti pada percakapan, tetapi juga tampak dalam kesediaannya membangun jejaring dengan organisasi kemasyarakatan, lembaga pendidikan, serta berbagai pihak yang menaruh perhatian pada pembangunan Aceh, baik di tingkat internasional, nasional, maupun lokal.

Pengalamannya dalam bidang transportasi dan logistik memiliki arti penting bagi pengembangan ekonomi daerah. Konektivitas dan kelancaran distribusi menjadi unsur yang menentukan kemampuan suatu daerah mengembangkan potensi pertanian, peternakan, perikanan, dan beragam komoditas unggulan.

Pembangunan daerah tentu tidak bisa hanya bertumpu pada pemerintah. Kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, dan masyarakat diperlukan agar potensi lokal dapat tumbuh menjadi kegiatan ekonomi yang produktif dan berkelanjutan.

Dalam konteks itu, saya memandang pengalaman dan jejaring Bang Ismail sebagai modal untuk mempertemukan gagasan pembangunan dengan peluang nyata di lapangan, termasuk penciptaan lapangan kerja dan perputaran ekonomi.

Dari Ruang Akademik ke Pengalaman Lapangan

Hubungan kami semakin dekat ketika saya melanjutkan pendidikan doktoral pada Program Doktor Ilmu Pemerintahan di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), Angkatan XIII. Kami pun memiliki ruang diskusi yang lebih luas tentang pendidikan, kepemimpinan, pembangunan daerah, dan masa depan Indonesia.

Saat ini, saya tengah mempersiapkan ujian akhir tertutup sebagai bagian dari penyelesaian studi doktoral. Proses tersebut semakin menyadarkan saya bahwa pendidikan menuntut kedisiplinan, ketekunan, serta kerendahan hati untuk terus menguji dan menyempurnakan pemikiran.

Perjalanan pendidikan Bang Ismail di tengah kesibukan profesional menjadi inspirasi tersendiri. Menyeimbangkan pekerjaan, keluarga, dan pendidikan bukanlah hal mudah, tetapi pengalamannya menunjukkan bahwa kemauan belajar dapat terus dipelihara di tengah beragam tanggung jawab.

Pengalaman diundang menghadiri pembukaan kantor cabang di Provinsi Gorontalo juga memperluas wawasan saya mengenai dunia usaha dan jejaring profesional Bang Ismail dengan pemimpin daerah. Kantor cabang Trans Continent di Gorontalo memiliki kawasan yang luas dan berada di kawasan berikat yang strategis.

Salah satu hal yang menarik perhatian saya ialah pembicaraan tentang potensi usaha peternakan sapi dan peluangnya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Di luar tugas pokok PT Trans Continent, usaha semacam ini berpotensi memberi manfaat lebih luas apabila ditopang pengelolaan yang baik, akses pasar, pengetahuan budidaya, dan keterlibatan masyarakat setempat. Dengan demikian, masyarakat bukan hanya menerima manfaat, tetapi juga berperan sebagai pelaku ekonomi.

Pengalaman itu menguatkan pandangan saya bahwa jejaring yang tumbuh melalui persahabatan dan pertukaran gagasan dapat membuka peluang kolaborasi yang bermanfaat bagi pembangunan Indonesia, sekaligus mendukung ketenteraman, kohesi sosial, dan penguatan pemerintahan umum.

Kepemimpinan yang Bertumbuh melalui Pembelajaran

Dari interaksi dengan Bang Ismail, saya memperoleh sejumlah pelajaran penting.

Pertama, keberhasilan tidak semestinya menghentikan proses belajar. Pengalaman perlu terus dilengkapi dengan pengetahuan agar seseorang mampu menyikapi perubahan secara bijaksana.

Kedua, karakter kepemimpinan tercermin dalam tindakan sehari-hari. Keramahan, keterbukaan, dan kemauan berbagi pengalaman merupakan nilai yang menumbuhkan kepercayaan, baik dalam hubungan profesional maupun personal.

Ketiga, jejaring yang baik tidak dibangun semata-mata untuk kepentingan pribadi, tetapi juga untuk mempertemukan orang-orang yang memiliki perhatian terhadap tujuan bersama. Dalam pembangunan daerah, jejaring seperti ini dapat menghubungkan kapasitas dunia usaha dengan kebutuhan masyarakat.

Bagi saya, ketiga pelajaran itu relevan bagi pelaku usaha maupun mereka yang bekerja di pemerintahan dan organisasi publik.

Merawat Persahabatan, Menyambung Harapan

Prosesi wisuda mungkin hanya berlangsung beberapa jam, tetapi makna sebuah peristiwa bisa bertahan jauh lebih lama. Bagi saya, undangan Dr. Ismail Rasyid, S.E., MMTr, pada wisuda ITL Trisakti tanggal 28 Oktober 2026 menjadi kesempatan untuk kembali merenungkan arti pendidikan, persahabatan, dan kepedulian sosial.

Saya percaya bahwa perjalanan hidup tidak semata-mata diukur dari jabatan yang dicapai, perusahaan yang dibangun, atau gelar akademik yang diraih. Keberhasilan juga terlihat dari pengetahuan yang dibagikan, hubungan baik yang dijaga, serta manfaat yang dirasakan orang lain.

Dari Bang Is, kita belajar bahwa semangat menuntut ilmu perlu berjalan seiring dengan kerendahan hati; persahabatan dapat menjadi ruang bertukar gagasan; dan dunia usaha memiliki peluang besar untuk ikut mendorong kesejahteraan masyarakat.

Pada akhirnya, ada tiga nilai yang saya bawa pulang dari perjumpaan itu: belajar sepanjang hayat, menjaga persahabatan, dan membangun kesejahteraan masyarakat.

Ketiganya mengingatkan kita bahwa hidup yang bermakna bukan hanya tentang seberapa jauh seseorang melangkah, melainkan juga bagaimana ia terus bertumbuh dan memberi manfaat bagi sesama.

Selamat dan sukses kepada Dr. Ismail Rasyid, S.E., MMTr, atas wisuda Program Doktor pada Sidang Terbuka Senat Institut Transportasi dan Logistik Trisakti (ITL Trisakti) Tahun Akademik 2025/2026. Semoga pencapaian akademik tertinggi ini menjadi berkah, menginspirasi banyak orang, serta semakin memperkuat kontribusi dan pengabdian bagi dunia usaha dan pembangunan bangsa.

Penulis

Yunidar Z.A. – Analis Kebijakan; penulis buku Perang dan Damai (Bandar Publishing, 2026).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.