Ketua PCNU Lhokseumawe Bekali Santri Pemahaman Turats, Tekankan Pentingnya Penguasaan Kitab Kuning

oleh -23 Dilihat
Pelatihan Musabaqah Qiraatil Kutub bagi santri se-Kota Lhokseumawe, Kamis (05/11/2026).

LHOKSEUMAWE, acehnarasi.com – Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Lhokseumawe, Dr. Tgk. M. Rizwan Haji Ali, MA., menekankan pentingnya penguasaan kitab kuning sebagai fondasi utama dalam menjaga tradisi keilmuan Islam di kalangan santri. Hal tersebut disampaikannya saat menjadi pemateri dalam kegiatan Pelatihan Musabaqah Qiraatil Kutub bagi santri se-Kota Lhokseumawe, Kamis (05/11/2026).

Kegiatan yang diselenggarakan oleh Dinas Syariat Islam dan Pendidikan Dayah Kota Lhokseumawe itu bertujuan meningkatkan kapasitas santri dalam membaca, memahami, dan mendalami kitab-kitab klasik keislaman atau yang dikenal dengan istilah turats.

Dalam pemaparannya, Tgk. Rizwan menjelaskan bahwa kitab kuning merupakan kumpulan karya ulama muktabar yang telah menjadi rujukan penting dalam sistem pendidikan dayah dan pesantren di berbagai wilayah Nusantara.

Ia mengungkapkan, tradisi pendidikan dayah di Aceh memiliki proses seleksi dan validasi keilmuan terhadap kitab-kitab karya ulama terdahulu. Kitab-kitab tersebut, khususnya yang berlandaskan tradisi Mazhab Syafi’i, kemudian dijadikan sebagai referensi utama dalam kurikulum pendidikan dayah.

Menurutnya, keistimewaan kitab kuning tidak hanya terletak pada kandungan materi keislamannya, tetapi juga pada kesinambungan tradisi keilmuan yang diwariskan secara turun-temurun melalui sanad. Rantai transmisi keilmuan tersebut menghubungkan pemikiran para ulama dengan imam-imam mazhab, para sahabat Nabi, hingga Rasulullah SAW.

“Penguasaan kitab kuning merupakan hal yang sangat penting bagi santri. Kitab kuning bukan sekadar bahan bacaan, melainkan telah menjadi bagian dari identitas, karakteristik, dan tradisi keilmuan santri dalam lingkungan pesantren,” jelas Tgk. Rizwan.

Ia juga mengaitkan pentingnya pengkajian kitab kuning dengan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren, yang mengakui kajian kitab kuning sebagai salah satu karakteristik penting dalam penyelenggaraan pendidikan pesantren.

Lebih lanjut, Tgk. Rizwan menjelaskan bahwa cakupan keilmuan dalam kitab kuning tidak hanya terbatas pada ilmu-ilmu keagamaan (ulum al-diniyah), seperti tauhid, fikih, dan tasawuf, tetapi juga meliputi ilmu-ilmu rasional dan ilmu pendukung (ulum al-aqliyah), seperti ilmu alat, logika, dan bahasa.

Kedua rumpun keilmuan tersebut, lanjutnya, memiliki keterkaitan yang erat dan saling melengkapi. Ilmu-ilmu keagamaan menjadi landasan substantif dalam memahami ajaran Islam, sementara penguasaan ilmu alat, logika, dan bahasa merupakan perangkat metodologis yang diperlukan untuk membaca, menelaah, serta memahami kandungan kitab kuning secara tepat.

“Oleh karena itu, santri perlu menguasai kedua bidang keilmuan tersebut. Kemampuan membaca kitab harus diimbangi dengan pemahaman terhadap substansi dan metodologi keilmuan yang terkandung di dalamnya,” tambahnya.

Selain Dr. Tgk. M. Rizwan Haji Ali, kegiatan Pelatihan Musabaqah Qiraatil Kutub tersebut juga menghadirkan pemateri lainnya, yakni Tgk. Taufikurrahmi, M.Pd., yang merupakan Sekretaris PCNU Kota Lhokseumawe, serta Kepala Dinas Syariat Islam dan Pendidikan Dayah Kota Lhokseumawe.

Melalui pelatihan ini, para santri diharapkan semakin meningkatkan kemampuan membaca dan memahami kitab-kitab turats, sekaligus memperkuat tradisi intelektual Islam. Upaya tersebut dinilai penting untuk menjaga kesinambungan warisan keilmuan para ulama serta memperkokoh eksistensi pendidikan dayah di Kota Lhokseumawe. (nzr)

Redaksi : acehnarasi.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.