Tuanku Muhammad: Pemuda Aceh Harus Berakhlak, Berilmu, Mandiri, dan Berdaya Saing

oleh -119 Dilihat
Tuanku Muhammad, S.Pd.I., M.Ag., Ketua Fraksi PKS DPRK Banda Aceh.

BANDA ACEH, acehnarasi.com – Masa depan Aceh sangat ditentukan oleh kualitas generasi mudanya. Pemuda tidak cukup hanya mewarisi kebesaran sejarah dan kejayaan masa lalu, tetapi harus mampu menciptakan sejarah baru melalui ilmu pengetahuan, integritas, inovasi, dan karya nyata.

Pandangan tersebut disampaikan Tuanku Muhammad, S.Pd.I., M.Ag., Ketua Fraksi PKS DPRK Banda Aceh. Tuanku menekankan pentingnya pembangunan kepemudaan sebagai investasi strategis untuk menentukan arah kemajuan Aceh pada masa mendatang.

Menurutnya, kekayaan sumber daya alam, keistimewaan, serta sejarah panjang Aceh tidak akan cukup menjadi modal kemajuan apabila tidak didukung generasi muda yang berpendidikan, berkarakter, kreatif, dan memiliki daya saing.

Karena itu, pendidikan berkualitas, penguatan keterampilan, serta pengembangan kepemimpinan sejak dini harus menjadi perhatian utama dalam pembangunan kepemudaan di Aceh.

Ia menilai, tantangan generasi muda saat ini semakin kompleks, terutama di tengah perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Pemuda Aceh harus mampu bertransformasi dari sekadar pengguna teknologi menjadi pencipta inovasi dan solusi.

Untuk mewujudkan hal tersebut, pemerintah, perguruan tinggi, dan dunia usaha perlu memperluas akses pelatihan teknologi, penguasaan bahasa asing, kewirausahaan digital, serta keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.

“Pemuda Aceh harus mampu bersaing di tingkat nasional dan global tanpa kehilangan identitas serta nilai-nilai keacehannya,” demikian salah satu penekanan dalam pandangannya mengenai masa depan generasi muda Aceh.

Pemuda Harus Menjadi Pencipta Lapangan Kerja

Selain pendidikan dan penguasaan teknologi, kemandirian ekonomi menjadi persoalan penting yang perlu mendapat perhatian serius. Terbatasnya kesempatan kerja produktif dan masih tingginya angka kemiskinan menuntut perubahan pendekatan pembangunan kepemudaan.

Pemuda, menurut Tuanku Muhammad, tidak boleh hanya dipersiapkan sebagai pencari kerja, tetapi juga harus didorong menjadi pencipta lapangan pekerjaan.

Potensi ekonomi Aceh yang tersebar di berbagai sektor perlu dimanfaatkan secara optimal oleh generasi muda. Pengembangan UMKM, pertanian modern, perikanan, ekonomi kreatif, pariwisata, dan industri halal merupakan sejumlah bidang yang dapat menjadi ruang tumbuh bagi kewirausahaan pemuda.

Potensi ekonomi gampong juga perlu dikembangkan melalui inovasi, pemanfaatan teknologi, dan pemasaran digital.

Dalam hal ini, pemerintah diharapkan mampu membangun ekosistem kewirausahaan yang mendukung akses permodalan, pendampingan usaha, inkubasi bisnis, hingga perluasan pasar bagi pengusaha muda.

Kesempatan ekonomi tersebut juga harus diberikan secara merata kepada pemuda di seluruh kabupaten/kota, termasuk kawasan pedesaan dan daerah terpencil.

Jangan sampai pemuda hanya menjadi penonton dalam pemanfaatan kekayaan daerahnya sendiri. Mereka harus mendapatkan kesempatan untuk tampil sebagai tenaga profesional, pelaku usaha, inovator, dan penggerak ekonomi lokal.

Akhlak dan Identitas Keacehan sebagai Fondasi

Di tengah tuntutan kemajuan zaman, Tuanku Muhammad mengingatkan bahwa pembangunan generasi muda Aceh tidak boleh mengabaikan penguatan akhlak, nilai-nilai Islam, adat, dan budaya.

Menurutnya, pemuda Aceh harus tumbuh menjadi generasi yang religius, jujur, amanah, disiplin, toleran, serta memiliki kepedulian sosial.

Identitas keislaman dan keacehan harus menjadi fondasi moral dalam membangun integritas, etos kerja, dan tanggung jawab sosial.

Ia juga mengingatkan sejumlah tantangan yang dihadapi generasi muda, mulai dari pengaruh negatif media digital, penyalahgunaan narkoba, perundungan, persoalan kesehatan mental, hingga lemahnya ketahanan keluarga.

Untuk menghadapi persoalan tersebut, diperlukan keterlibatan bersama keluarga, sekolah, dayah, masjid, dan komunitas kepemudaan. Generasi muda membutuhkan ruang pembinaan, pendampingan, kreativitas, serta aktivitas positif yang berkelanjutan.

Menyiapkan Pemimpin Aceh Menuju 2045

Aspek lain yang tidak kalah penting adalah mempersiapkan generasi muda menjadi calon pemimpin Aceh pada masa mendatang.

Tuanku Muhammad menilai, pemuda harus dibekali integritas, kapasitas intelektual, keberanian mengambil tanggung jawab, serta kepedulian terhadap persoalan masyarakat.

TUANKU MUHAMMAD 2

Organisasi kepemudaan, perguruan tinggi, dan komunitas sosial harus menjadi ruang pembentukan karakter kepemimpinan, bukan sekadar tempat melaksanakan kegiatan seremonial.

Pemuda juga perlu dilibatkan secara bermakna dalam perencanaan pembangunan, musyawarah gampong, pengawasan kebijakan publik, serta penyelesaian berbagai persoalan masyarakat.

Untuk mendukung hal tersebut, Pemerintah Aceh dan pemerintah kabupaten/kota perlu menyusun peta jalan pembangunan kepemudaan yang terukur menuju Aceh 2045.

Prioritasnya meliputi peningkatan kualitas sumber daya manusia, penciptaan lapangan kerja, penguatan karakter, serta regenerasi kepemimpinan.

Keberhasilan pembangunan kepemudaan, menurutnya, tidak semestinya hanya diukur dari banyaknya seminar, pelatihan, atau kegiatan yang diselenggarakan. Ukuran sesungguhnya adalah lahirnya generasi muda yang kompeten, mandiri secara ekonomi, berprestasi, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Menciptakan Sejarah Baru untuk Aceh

Pada akhirnya, masa depan Aceh bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, melainkan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat, terutama generasi muda.

Aceh membutuhkan generasi yang kuat dalam iman dan akhlak, unggul dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, mandiri dalam ekonomi, serta tangguh dalam kepemimpinan.

Pesan utama yang ingin ditegaskan adalah bahwa pemuda Aceh ke depan harus menjadi generasi yang berakhlak, berilmu, mandiri, dan berdaya saing.

“Jangan hanya menjadi generasi yang mewarisi kebesaran sejarah Aceh. Jadilah generasi yang menciptakan sejarah baru melalui ilmu, integritas, inovasi, dan karya nyata untuk kemajuan Aceh.”

Harapan tersebut menjadi pengingat bahwa kejayaan Aceh pada masa depan tidak cukup hanya dibanggakan melalui sejarah. Kejayaan itu harus diperjuangkan kembali melalui kualitas sumber daya manusia dan kontribusi nyata generasi mudanya. (fuu)

Redaksi : acehnarasi.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.