Rezeki dalam Islam: Ketetapan Allah, Kewajiban Berikhtiar, dan Rahasia Keberkahan Hidup

oleh -50 Dilihat

Di tengah persaingan hidup yang semakin ketat, persoalan rezeki menjadi salah satu hal yang paling banyak dipikirkan manusia. Ada yang bekerja tanpa mengenal waktu demi mengejar kekayaan, sementara sebagian lainnya merasa tidak perlu bersungguh-sungguh karena meyakini bahwa rezeki telah ditentukan Allah SWT. Dua cara pandang ini sama-sama tidak mencerminkan ajaran Islam secara utuh.

Islam mengajarkan keseimbangan antara iman kepada takdir Allah, ikhtiar yang maksimal, doa yang tulus, dan tawakal yang benar. Seorang Muslim diperintahkan untuk bekerja keras dengan cara yang halal, namun tetap meyakini bahwa hasil akhir berada sepenuhnya dalam kehendak Allah SWT.

Inilah konsep rezeki yang diajarkan Al-Qur’an dan Sunnah serta dijelaskan oleh para ulama sepanjang sejarah Islam.

Allah adalah Satu-satunya Pemberi Rezeki

Allah SWT berfirman:

“Dan tidak ada suatu makhluk melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang menjamin rezekinya.” (QS. Hud: 6)

Dalam ayat lain Allah menegaskan:

“Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki, Yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.” (QS. Az-Zariyat: 58)

Dalam Tafsir Ibnu Katsir, dijelaskan bahwa ayat ini menunjukkan keluasan rahmat Allah. Tidak ada satu pun makhluk yang luput dari ilmu dan pemeliharaan-Nya. Rezeki seluruh makhluk telah diketahui dan ditentukan oleh Allah sejak sebelum mereka dilahirkan. Namun, Allah juga menciptakan sebab-sebab untuk memperoleh rezeki sehingga manusia diperintahkan untuk menempuhnya melalui usaha yang halal.

Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa jaminan rezeki bukan berarti manusia boleh meninggalkan pekerjaan. Allah menciptakan hukum sebab-akibat (asbabul kasb) sebagai bagian dari sunnatullah. Karena itu, bekerja merupakan bagian dari ketaatan kepada Allah, bukan sekadar aktivitas duniawi.

Ikhtiar Adalah Bentuk Ibadah

Setelah melaksanakan salat Jumat, Allah SWT berfirman:

“Apabila salat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah.” (QS. Al-Jumu’ah: 10)

Ayat ini menunjukkan bahwa Islam tidak memisahkan ibadah ritual dengan aktivitas ekonomi. Masjid membentuk ketakwaan, sedangkan pekerjaan menjadi sarana menebarkan manfaat bagi kehidupan.

Rasulullah SAW bersabda:

“Tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik daripada hasil usaha tangannya sendiri.” (HR. Bukhari)

Imam An-Nawawi, ketika menjelaskan hadis-hadis tentang bekerja, menerangkan bahwa mencari nafkah yang halal merupakan amal yang sangat mulia. Bahkan, seseorang yang bekerja untuk mencukupi kebutuhan keluarga, menjaga kehormatan diri dari meminta-minta, dan membantu orang lain memperoleh pahala sebagaimana ibadah lainnya apabila diniatkan karena Allah.

Dalam pandangan Islam, seorang guru, petani, nelayan, dokter, pedagang, wartawan, pegawai, hingga buruh yang bekerja dengan jujur berada dalam jalan kebaikan apabila pekerjaannya dilakukan secara amanah.

Tawakal Dimulai Setelah Ikhtiar

Banyak orang memahami tawakal sebagai sikap pasrah tanpa usaha. Padahal, Islam mengajarkan sebaliknya.

Rasulullah SAW bersabda:

“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya Allah akan memberi rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung; burung itu pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang pada sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. Tirmidzi)

Dalam kitab Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam, Ibnu Rajab Al-Hanbali menjelaskan bahwa hadis ini merupakan dalil yang sangat kuat bahwa tawakal tidak pernah bertentangan dengan usaha. Burung tetap keluar dari sarangnya setiap pagi untuk mencari makanan. Ia tidak menunggu rezeki datang sendiri.

Menurut Ibnu Rajab, tawakal yang benar adalah menyandarkan hati kepada Allah sambil memanfaatkan sebab-sebab yang dibolehkan syariat. Siapa yang meninggalkan usaha dengan alasan bertawakal, maka ia telah keliru memahami ajaran Islam.

Takdir Tidak Boleh Dijadikan Alasan Bermalas-malasan

Sebagian orang berkata, “Kalau memang rezeki saya, pasti akan datang sendiri.”

Pemahaman seperti ini telah dibantah oleh para ulama sejak masa sahabat.

Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu pernah berkata:

“Janganlah salah seorang di antara kalian duduk tidak bekerja lalu berkata, ‘Ya Allah, berilah aku rezeki,’ padahal ia mengetahui bahwa langit tidak menurunkan hujan emas dan perak.”

Perkataan Umar menunjukkan bahwa Islam menolak fatalisme. Allah memang menentukan hasil, tetapi manusia diperintahkan menjalankan sebab-sebabnya.

Allah SWT juga berfirman:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)

Ayat ini mengandung pesan bahwa perubahan hidup menuntut perubahan sikap, kerja keras, disiplin, ilmu, dan kesungguhan.

Rezeki Bukan Sekadar Uang

Di dalam Al-Qur’an, kata rizq tidak selalu bermakna harta. Rezeki mencakup segala nikmat yang Allah berikan kepada manusia.

Imam Wahbah Az-Zuhaili dalam Tafsir Al-Munir menjelaskan bahwa rezeki meliputi seluruh karunia Allah yang dapat dimanfaatkan manusia, baik yang bersifat materi maupun nonmateri.

Karena itu, kesehatan, keluarga yang harmonis, ilmu yang bermanfaat, keamanan, kesempatan beribadah, anak yang saleh, sahabat yang baik, waktu yang berkah, hingga ketenangan hati merupakan bagian dari rezeki yang tidak ternilai harganya.

Rasulullah SAW bersabda:

“Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, tetapi kekayaan yang sesungguhnya adalah kaya hati.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini mengingatkan bahwa ukuran keberhasilan seorang Muslim bukan hanya jumlah kekayaan, melainkan kecukupan jiwa dan rasa syukur.

Keberkahan Lebih Penting daripada Banyaknya Harta

Islam tidak hanya mengajarkan bagaimana memperoleh rezeki, tetapi juga bagaimana menjaga keberkahannya.

Allah SWT berfirman:

“Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi.” (QS. Al-A’raf: 96)

Para ulama menjelaskan bahwa keberkahan berarti bertambahnya manfaat dari sesuatu, meskipun jumlahnya tidak selalu besar.

Seseorang yang memperoleh penghasilan sederhana namun halal dapat hidup tenang, keluarganya harmonis, anak-anaknya saleh, dan hartanya mencukupi. Sebaliknya, harta yang banyak tetapi diperoleh melalui jalan yang haram sering kali menghilangkan ketenteraman hidup.

Karena itu, seorang Muslim tidak hanya bertanya, “Berapa besar penghasilan saya?”, tetapi juga, “Apakah penghasilan ini halal dan diberkahi Allah?”

Pintu-Pintu Datangnya Rezeki

Al-Qur’an dan Sunnah menjelaskan banyak amalan yang menjadi sebab datangnya rezeki dan keberkahannya.

Di antaranya:

  • Bertakwa kepada Allah.
  • Menjaga salat lima waktu.
  • Memperbanyak istighfar.
  • Bersedekah.
  • Menunaikan zakat.
  • Menyambung silaturahmi.
  • Berbakti kepada kedua orang tua.
  • Bersikap jujur dan amanah.
  • Menjauhi riba, suap, korupsi, penipuan, dan segala bentuk penghasilan haram.
  • Memperbanyak syukur kepada Allah.

Allah SWT berfirman:

“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” (QS. At-Talaq: 2–3)

Allah juga berfirman:

“Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu.” (QS. Ibrahim: 7)

Rasulullah SAW bersabda:

“Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Penutup

Islam mengajarkan bahwa rezeki adalah perpaduan antara ketetapan Allah dan kewajiban manusia untuk berikhtiar. Allah telah menjamin rezeki setiap makhluk, tetapi manusia tetap diwajibkan bekerja, menuntut ilmu, menjaga kejujuran, memperbanyak doa, serta bertawakal kepada-Nya.

Para ulama sejak generasi salaf hingga masa kini sepakat bahwa bekerja mencari nafkah yang halal merupakan bagian dari ibadah. Rezeki bukan semata-mata diukur dari banyaknya harta, tetapi dari keberkahannya. Harta yang halal dan penuh keberkahan akan mendatangkan ketenangan, sedangkan harta yang haram, meskipun melimpah, tidak akan menghadirkan kebahagiaan sejati.

Pada akhirnya, seorang Muslim tidak mengejar kekayaan semata, melainkan ridha Allah SWT. Ketika usaha dilakukan dengan sungguh-sungguh, doa dipanjatkan dengan penuh keyakinan, dan hati bertawakal kepada-Nya, maka apa pun yang Allah tetapkan adalah rezeki terbaik. Sebab, rezeki yang paling besar bukanlah apa yang memenuhi tangan kita, melainkan apa yang menenangkan hati dan mendekatkan kita kepada Allah SWT.

Oleh: Redaksi AcehNarasi.com

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.