
خَبِّرِي…. يَا نُسَيْمَى عَنْ مُغْرَامْ شَذِيْ وَالْهَانْ
“Berilah kabar kepadaku wahai angin sepoi-sepoi, aku tergila-gila, aku sangat rindu dan bingung”.
عَا شِقْ أَهْ عَا شِقْ أَهْ عَاشِقِ الْأَنْـوَارْ
“Oh rindu, oh rindu kepada cahaya”.
أَنْتِ عَنِّي تَشْتَكِي وَالْحَالِي كُلَّ الْلَّيَلِ سَهْرَانْ
“Engkau perintahkan aku mengadu kepadanya, lihatlah keadaanku, sepanjang malam aku begadang”
كَي أَرَا الْمُخْتَارْ
“Agar aku dapat memandang Nabi Al-Mukhtar (Nabi pilihan)”
مَن يَّـلْمُنِي فِي غَرَامِي طَا لَمَا عَاشِقْ جَمَالَكْ
“Barang siapa menghina penyakitku, sungguh sangat terlambat karena kerinduanku pada kebaikan kekasihku sudah lama”.
Keistimewaannya :
Shalawat “Khobbiri” bukan sekadar lantunan biasa, melainkan **puisi rindu yang amat dalam** kepada Nabi Muhammad SAW, yang diciptakan oleh Guru Sekumpul. Keistimewaannya terletak pada **”sir” (rahasia)** di balik syairnya, yang mampu menembus hati dan membuat siapa pun yang mendengarnya terhanyut—bahkan tanpa memahami artinya.
Magnet shalawat ini begitu kuat hingga mampu menyatukan para jemaah dalam satu ruang rindu. Ada pesan tersembunyi yang hadir ketika kita melantunkannya: bahwa shalawat adalah jembatan rindu, dan bagi siapa yang membaca atau mendengarnya dengan penghayatan, **InsyaAllah ia akan merasakan kehadiran sir (rahasia ilahi)** yang membuat hati rapuh, penuh harap, dan tak berdaya karena cinta.
**Kesimpulan akhir:** Shalawat ini adalah jendela rindu. Barang siapa mendekatinya, ia akan disentuh oleh sir-nya, yaitu cinta yang tersembunyi namun nyata.


