Ponsel pintar kini bukan lagi barang asing di tangan anak-anak usia sekolah. Data Badan Pusat Statistik yang dikutip Medcom.id mencatat, 36,99 persen anak Indonesia usia 5-15 tahun sudah memiliki ponsel sendiri pada 2023, bahkan 38,92 persen anak usia 0-6 tahun sudah menggunakan telepon seluler. Fenomena ini membuat paparan layar terjadi jauh lebih dini dibanding generasi sebelumnya, dan menimbulkan kekhawatiran serius dari sisi kesehatan fisik maupun psikologis anak.
Data yang Perlu Diwaspadai
Riset yang dimuat Jurnal Kolaboratif Sains (2025) terhadap 83 siswa di SMP di Jawa Timur menemukan bahwa sebagian besar anak sudah menunjukkan gejala ketergantungan terhadap smartphone, meski dalam kategori sedang, termasuk kesulitan melepaskan diri dari gawai meski hanya untuk keperluan mendesak.
Studi lain di Kabupaten Kerinci yang dipublikasikan di jurnal EDU Research menyimpulkan bahwa kecanduan smartphone menurunkan kualitas interaksi sosial anak, ditandai dengan menurunnya rasa empati, melemahnya kemampuan komunikasi tatap muka, dan meningkatnya sikap individualis.
Sementara itu, penelitian pada anak usia 3-5 tahun yang terbit di jurnal Menulis: Jurnal Penelitian Nusantara mendapati bahwa penggunaan smartphone berlebihan berdampak negatif terhadap perilaku sosial, kemampuan konsentrasi, serta perkembangan bahasa dan emosi anak, meski penggunaan yang diarahkan dan didampingi orang tua tetap bisa memberi manfaat edukatif.
Gejala yang Sama Juga Terekam di Aceh
Persoalan ini bukan hanya isu nasional. Penelitian di salah satu SDN dalam Kota Banda Aceh yang dimuat Jurnal Ilmiah Pendidikan Guru Sekolah Dasar mendapati bahwa penggunaan ponsel turut memengaruhi perkembangan karakter anak usia sekolah dasar di kota itu. Studi lain di SMP Negeri dalam wilayah Kabupaten Aceh Barat, juga mencatat dampak gadget terhadap anak usia remaja di jenjang sekolah menengah pertama.
Di Lhokseumawe, penelitian dengan pendekatan kualitatif di kawasan Blang Poroh, Muara Dua, menemukan pola yang mirip dengan temuan di daerah lain: sebagian anak sudah tergolong kecanduan gadget, sementara sebagian lainnya masih terkendali karena orang tua secara aktif memberi jeda waktu bermain. Temuan ini menegaskan bahwa peran pengawasan orang tua tetap menjadi faktor pembeda utama, bukan semata soal seberapa mudah anak mengakses ponsel.
Mata Kering hingga Gangguan Tidur
Dari sisi kesehatan fisik, paparan layar berlebihan paling cepat terasa pada organ mata. Sebuah studi di Korea Selatan menemukan 9,1 persen anak usia 9-12 tahun sudah mengalami gangguan mata kering akibat terlalu lama menatap layar gawai.
Gangguan tidur juga jadi sorotan. Riset di Jurnal Kolaboratif Sains menjelaskan bahwa kualitas tidur yang buruk akibat kebiasaan bermain ponsel dapat memicu ketidakseimbangan fisiologis dan psikologis pada anak. Temuan lapangan di Balikpapan yang dimuat jurnal Didaktika: Jurnal Kependidikan (2025) memperkuat hal ini — anak-anak yang menggunakan gadget lebih dari 3-5 jam sehari cenderung kurang berinteraksi dengan teman sebaya, mengalami gangguan tidur, dan menunjukkan penurunan motivasi belajar.
Bukan Cuma Dampak Buruk
Meski begitu, para peneliti sepakat ponsel tidak sepenuhnya buruk. Kajian di Jurnal Pendidikan Sosial dan Humaniora mencatat bahwa ponsel juga menawarkan manfaat berupa akses informasi yang lebih mudah, pengembangan keterampilan digital, dan peningkatan interaksi sosial secara virtual — asalkan penggunaannya terkendali.
Penelitian di Dialektika: Jurnal Pendidikan Agama Islam turut menegaskan, teknologi dapat meningkatkan interaksi sosial dan minat belajar siswa jika dikelola dengan baik oleh guru dan orang tua, namun berisiko memicu kecanduan atau mengalihkan fokus anak ke aplikasi non-edukatif bila dibiarkan tanpa pengawasan.
Berapa Lama Batas Aman Ponsel untuk Anak Sekolah?
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) sejak lama memberikan panduan screen time berdasarkan usia. Untuk anak usia sekolah dasar (6-12 tahun), batas layar yang dianjurkan adalah maksimal 90 menit per hari, sementara remaja usia 12-18 tahun disarankan tidak lebih dari dua jam sehari. IDAI juga menegaskan pentingnya menjaga waktu tidur berkualitas 9-11 jam agar tidak tergerus oleh kebiasaan bermain gawai.
American Academy of Pediatrics (AAP) memiliki anjuran senada, bahkan menyarankan durasi yang lebih ketat untuk anak prasekolah, sebagaimana dikutip dalam Journal of Health (2026) yang meneliti hubungan screen time dengan perkembangan bahasa dan sosial anak.

Yang Bisa Dilakukan Orang Tua dan Sekolah
Dari berbagai penelitian tersebut, ada beberapa langkah yang konsisten direkomendasikan para peneliti dan tenaga kesehatan anak:
- Batasi durasi, sesuaikan dengan anjuran usia dari IDAI, dan hindari layar menjelang jam tidur.
- Dampingi dan awasi, terutama untuk memastikan anak mengakses konten yang mendukung, bukan mengganggu, proses belajar.
- Jadi contoh, karena anak cenderung meniru kebiasaan digital orang tuanya sendiri.
- Jaga keseimbangan aktivitas, dengan memastikan waktu bermain fisik, interaksi sosial langsung, dan istirahat tetap terpenuhi.
- Bangun kesepakatan bersama sekolah, khususnya soal penggunaan gawai untuk kebutuhan belajar di kelas.
Penutup
Ponsel memang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian anak sekolah, termasuk untuk kebutuhan belajar. Namun sejumlah penelitian menegaskan bahwa tanpa batasan dan pendampingan yang tepat, risiko terhadap kesehatan mata, kualitas tidur, kemampuan sosial, hingga motivasi belajar anak jauh lebih besar dibanding manfaatnya. Kuncinya bukan melarang total, melainkan mengelola penggunaannya secara bijak dan konsisten.
Redaksi: acehnarasi.com






