,

Rektor Almuslim Paparkan Strategi Kerja Sama Internasional

oleh -146 Dilihat
KERJASAMA LLDIKTI XIII

BANDA ACEH, acehnarasi.com — Rektor Universitas Almuslim Bireuen, Dr. Marwan, M.Pd., menekankan pentingnya mengubah kerja sama perguruan tinggi dengan mitra luar negeri menjadi program nyata yang memberikan manfaat bagi institusi, sivitas akademika, dan pengembangan lulusan.

Hal tersebut disampaikan Dr. Marwan, M.Pd. saat menjadi salah satu narasumber dalam kegiatan Penyusunan Rencana Kerja Sama Perguruan Tinggi melalui Kemitraan Luar Negeri yang digelar LLDIKTI Wilayah XIII di Banda Aceh, Selasa (11/8/2026).

Kegiatan tersebut dibuka oleh Kepala LLDIKTI Wilayah XIII, Dr. Ir. Rizal Munadi, MM., MT, dan diikuti 55 utusan perguruan tinggi swasta (PTS) dari seluruh Aceh.

Dalam pemaparannya, Dr. Marwan menjelaskan bahwa kerja sama internasional tidak semestinya berhenti pada hubungan kelembagaan maupun penandatanganan nota kesepahaman. Kemitraan harus diarahkan pada program yang konkret, terukur, berkelanjutan, serta memberikan manfaat yang dapat dirasakan langsung oleh perguruan tinggi dan sivitas akademika.

Menurutnya, pengalaman Universitas Almuslim menunjukkan bahwa kemitraan luar negeri dapat dikembangkan secara berkelanjutan apabila perguruan tinggi memiliki program yang jelas, memilih mitra yang tepat, serta memastikan adanya manfaat dari setiap kerja sama yang dibangun.

Melalui Kantor Urusan Internasional (KUI), Universitas Almuslim telah mengembangkan sejumlah program bersama mitra luar negeri. Di antaranya Exchange Research Grant Collaboration dengan UiTM Perak Malaysia, Summer Course dengan NGU Jepang, kerja sama dengan University of Southern Mindanao, kolaborasi dengan Ihsan Johor Malaysia, serta Umuslim International Cultural Festival.

Dr. Marwan menegaskan, ruang lingkup kerja sama internasional perguruan tinggi perlu diperluas pada kegiatan yang memiliki kontribusi langsung terhadap pengembangan institusi dan sumber daya manusia.

Kerja sama tersebut, kata dia, dapat diwujudkan melalui riset bersama, pendidikan, pengabdian kepada masyarakat, pertukaran budaya, mobilitas mahasiswa dan dosen, serta pengembangan jejaring global.

“Kerja sama internasional harus menghasilkan program nyata dan manfaat yang dapat dirasakan oleh institusi serta sivitas akademika,” demikian inti pesan yang disampaikan Dr. Marwan dalam pemaparannya.

FOTO FR MARWAN

Dorong Perguruan Tinggi Cetak Talenta Global

Selain Dr. Marwan, kegiatan tersebut menghadirkan tiga narasumber lainnya yang memberikan perspektif berbeda terkait penguatan kapasitas perguruan tinggi dalam membangun kemitraan luar negeri.

Narasumber dari TJL Promed Academy, Yaumil Agustine, BSN, RN, MHS, melalui materi “Empowering Universities to Create Global Talent”, menekankan perlunya transformasi perguruan tinggi dari institusi yang hanya menghasilkan lulusan menjadi lembaga yang mampu menciptakan talenta berdaya saing global.

Menurut Yaumil, perubahan lanskap dunia yang dipengaruhi Revolusi Industri 4.0, globalisasi tenaga kerja, serta mobilitas profesional lintas negara menuntut perguruan tinggi memperkuat kompetensi global mahasiswa.

Hal itu mencakup kemampuan bahasa dan lintas budaya, sertifikasi internasional, serta pengalaman mahasiswa berada dalam lingkungan global.

Yaumil menjelaskan, transformasi tersebut dapat dilakukan melalui integrasi kurikulum, pengembangan global class, kolaborasi dengan industri dan lembaga internasional, dual certification, talent pipeline, serta penguatan global career center.

Perguruan tinggi juga perlu melakukan evaluasi kurikulum secara bertahap, meningkatkan kapasitas dosen, memperluas kemitraan internasional, serta membangun sistem yang mampu menghubungkan lulusan dengan pasar kerja global.

Kemitraan Diperkuat untuk Penempatan Lulusan

Sementara itu, Nur Asiah dari Akademi Keperawatan Teungku Fakinah memaparkan pengalaman institusinya dalam membangun kemitraan untuk meningkatkan kompetensi mahasiswa sekaligus mendukung penempatan alumni ke luar negeri.

Ia menjelaskan, lulusan yang ingin bersaing di pasar kerja internasional tidak cukup hanya memiliki kompetensi klinik. Mereka juga harus menguasai bahasa asing, memiliki literasi digital, serta mengantongi sertifikasi kompetensi yang sesuai dengan standar internasional.

Akper Teungku Fakinah telah membangun kemitraan dengan KP2MI/BP2MI, PT Tri Akmi Sentosa, Pusat Pengembangan Bahasa UIN Ar-Raniry, serta Al Islam Specialist Hospital Kuala Lumpur.

Kerja sama tersebut diwujudkan melalui berbagai kegiatan, mulai dari pelatihan bahasa, sertifikasi, praktik lapangan, rekrutmen hingga fasilitasi penempatan lulusan.

Strategi tersebut kemudian diperkuat dengan pelatihan Bahasa Inggris, Arab dan Jepang, pelaksanaan international job fair, campus hiring, perluasan jaringan mitra, serta tracer study alumni.

Kampus Didorong Pahami Jalur Aman Bekerja ke Luar Negeri

Perspektif lainnya disampaikan narasumber dari Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Aceh, Siti Rolijah, SH., M.Hum.

Ia mengangkat pentingnya penguatan ekosistem vokasi pekerja migran Indonesia, khususnya dalam menghubungkan perguruan tinggi dengan kebutuhan pasar kerja global.

Siti Rolijah menjelaskan bahwa perguruan tinggi dan lembaga vokasi mempunyai peran penting dalam menyiapkan calon pekerja migran yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan negara tujuan sekaligus memahami prosedur bekerja ke luar negeri secara aman, legal dan sesuai ketentuan.

Menurutnya, calon pekerja migran perlu dibekali keterampilan, kemampuan bahasa, sertifikasi, kelengkapan dokumen, kesehatan serta jaminan sosial.

Perguruan tinggi juga didorong memanfaatkan sistem resmi seperti E-Vokasi dan SISKOP2MI, sekaligus membangun keterhubungan dengan berbagai lembaga terkait.

Untuk penempatan pekerja migran, terdapat sejumlah skema yang dapat digunakan, antara lain Government to Government (G-to-G), Government to Private (G-to-P), dan Private to Private (P-to-P).

Penguatan ekosistem tersebut dinilai penting untuk mencegah penempatan ilegal, penipuan, serta tindak pidana perdagangan orang.

Kerja Sama Harus Berujung Program Nyata

Keempat narasumber pada kegiatan tersebut pada prinsipnya memiliki pandangan yang sama bahwa kerja sama luar negeri perguruan tinggi tidak boleh hanya berorientasi pada penandatanganan nota kesepahaman atau MoU.

Kemitraan harus diterjemahkan menjadi program konkret, berkelanjutan dan memberikan dampak terhadap pengembangan institusi maupun peningkatan kualitas lulusan.

Kerja sama internasional juga perlu dikaitkan dengan kebutuhan dunia kerja, pengembangan kompetensi, riset, pendidikan, sertifikasi, mobilitas mahasiswa dan dosen, hingga peluang penempatan lulusan di tingkat internasional.

Para narasumber menilai perguruan tinggi perlu membangun jejaring internasional secara terencana dan berbasis kebutuhan. Pemilihan mitra juga harus mempertimbangkan kesesuaian bidang serta kemampuan mitra dalam memberikan manfaat nyata.

Dengan pendekatan tersebut, kerja sama internasional diharapkan tidak berhenti sebagai dokumen administratif, tetapi menjadi instrumen strategis untuk meningkatkan daya saing perguruan tinggi sekaligus menghasilkan lulusan yang mampu berkompetisi di tingkat global.

Kegiatan yang diikuti 55 utusan PTS se-Aceh itu diharapkan dapat mendorong perguruan tinggi di Aceh menyusun rencana kerja sama luar negeri yang lebih terarah, terukur dan berorientasi hasil.

Selain itu, forum tersebut diharapkan memperkuat posisi perguruan tinggi Aceh dalam jejaring pendidikan dan pasar kerja internasional.

Redaksi : acehnarasi.com

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.