JENEWA, acehnarasi.com — Akademisi Aceh, Prof Dr H Muhammad Siddiq Armia, PhD, menjadi peserta program visiting fellowship di United Nations Office at Geneva (UNOG), Swiss, yang berlangsung sejak Senin,(31/09/2026).
Guru besar UIN Ar-Raniry itu diundang bersama 20 akademisi ternama yang datang dari 20 negara. Sebelum ke Swiss, ia juga menjalani program serupa di House of Lords, Westminster Parliament, Inggris.
Dengan demikian, Siddiq tercatat mengikuti visiting fellowship di dua negara sekaligus. Di Inggris dan Swiss, para peserta saling bertukar pengetahuan dan hasil penelitian dalam forum berskala global.
Seluruh rangkaian program berjalan selama satu bulan. Panitia mengombinasikan sesi daring (online) dengan pertemuan tatap muka atau luring (offline), dan tahap luring di markas Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Jenewa berlangsung selama empat hari, 31 Agustus sampai 3 September 2026.
Berangkat dari Banda Aceh
Siddiq memulai perjalanannya dari Banda Aceh dan transit di Kuala Lumpur, Malaysia. Tujuan pertamanya adalah House of Lords atau Parlemen Inggris, tempat program fellowship tersebut dibuka.
Setelah menyelesaikan agenda di London, pakar hukum tata negara internasional itu melanjutkan perjalanan ke Jenewa. Ia menginjakkan kaki di kota tersebut pada Minggu, 30 Agustus 2026, sehari sebelum kegiatan di UNOG dimulai.
Kawasan Eropa bukan tempat asing bagi Siddiq. Ia menamatkan studi doktoralnya di Anglia Ruskin University, Cambridge, Inggris.
“Pengalaman Langka”
Kepada wartawan yang menghubunginya lewat telepon seluler pada Senin (31/08/2026), bertepatan dengan hari pertama kegiatan di UNOG, Siddiq mengungkapkan rasa syukurnya.
“Alhamdulillah, kami mendapat kesempatan sebagai visiting fellowship di salah satu markas PBB di dunia, selain New York,” ujarnya.
Siddiq berharap relasi lintas negara serta ilmu yang ia dapat selama program bisa menjadi modal untuk membina kalangan muda di tanah air.
“Jaringan global, pengetahuan dan pengalaman ini tentu sangat berguna bagi kami dalam mengembangkan potensi akademik di kalangan generasi muda di Indonesia, khususnya Aceh,” kata akademisi yang dikenal dekat dengan mahasiswa S1, S2, dan S3 itu. Ia juga kerap terlihat ngopi bersama mahasiswanya.
Usai program di Swiss rampung, Siddiq kembali dihubungi melalui telepon ketika tengah transit di Doha, Qatar, Jumat (04/09/2026). Ia menilai kehadiran akademisi Aceh di jantung diplomasi dunia itu sebagai kesempatan yang jarang terjadi.
“Alhamdulillah, kali ini kita dari Aceh mendapat kesempatan sharing pengetahuan langsung di dalam markas PBB Jenewa. Ini adalah pengalaman langka,” tuturnya.

Masuk Daftar 2 Persen Ilmuwan Dunia
Undangan dari UNOG menambah panjang deretan capaian internasional Siddiq. Pada 2025, namanya masuk dalam daftar 2 persen akademisi terbaik dunia (2% top scientists worldwide), yang disebut sebagai pencapaian tertinggi bagi seorang akademisi di tingkat global.
Alumnus Dayah Darussaadah Pidie ini juga sering dipercaya menjadi dosen tamu (visiting professor/visiting lecturer) dan penguji disertasi doktor di perguruan tinggi luar negeri. Undangan itu datang dari kampus-kampus di Inggris, Maroko, Uni Emirat Arab (UEA), Korea Selatan, Filipina, Thailand, Malaysia, serta sejumlah negara lain.
Mengenal UNOG
UNOG merupakan salah satu pusat utama aktivitas PBB. Kantornya berada di kompleks Palais des Nations, Geneva, Switzerland.
Dalam struktur Sekretariat PBB, UNOG adalah satu dari empat kantor utama. Tiga lainnya ialah kantor pusat di New York serta kantor PBB di Vienna dan Nairobi.
UNOG menjalankan fungsi sebagai kantor perwakilan Sekretaris Jenderal PBB di Geneva. Lembaga ini juga menjadi salah satu pusat terpenting bagi diplomasi multilateral atau kerja sama yang melibatkan banyak negara.
Geneva memiliki kedudukan strategis dalam sistem internasional. Kota itu menjadi tempat bertemunya delegasi berbagai negara, organisasi internasional, lembaga-lembaga PBB, organisasi nonpemerintah, hingga institusi pendidikan dan penelitian.

Lebih dari 40 organisasi dan entitas di bawah sistem PBB berkantor pusat atau memiliki kantor regional di Geneva. Kota ini juga menampung lebih dari 180 misi diplomatik tetap dan ratusan NGO.
Salah satu peran utama UNOG adalah memfasilitasi konferensi dan pertemuan internasional. Tiap tahun, Palais des Nations menjadi tuan rumah bagi sekitar 8.000 pertemuan.
Beragam isu global dibahas dalam forum-forum tersebut, mulai dari hukum, perdamaian dan keamanan, perlucutan senjata, hak asasi manusia, pembangunan berkelanjutan, kesehatan, bantuan kemanusiaan, lingkungan, hingga persoalan sosial dan ekonomi.
Redaksi : acehnarasi.com








