BANDA ACEH, acehnarasi.com – Wakil Menteri Pariwisata (Wamenpar) Ni Luh Puspa meninjau Desa Wisata Nusa di Kabupaten Aceh Besar serta Museum Kapal PLTD Apung dan Museum Tsunami Aceh di Kota Banda Aceh pada Minggu (13/9/2026). Kunjungan ini menegaskan wisata sejarah dan edukasi kebencanaan sebagai daya tarik paling khas Aceh.
Di PLTD Apung, Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal menyambut Wamenpar dengan pengalungan selendang motif Aceh, lalu memaparkan langsung sejarah kapal tersebut.
“PLTD Apung ini bukan hanya monumen, tapi juga ruang pembelajaran bagi generasi muda,” kata Illiza, Minggu (13/9/2026), sebagaimana dikutip laman Diskominfo Banda Aceh.
Pada hari yang sama, Wamenpar juga menutup Aceh Culinary Festival (ACF) 2026 di Taman Sulthanah Safiatuddin.
Kunjungan pejabat pusat ini datang ketika sektor pariwisata Aceh masih berupaya pulih. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Aceh pada Juli 2026 sebanyak 2.838 kunjungan, naik 11,16 persen dari Juni 2026, tetapi masih 31,02 persen lebih rendah dibanding Juli 2025.
Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel bintang pada bulan yang sama berada di angka 29,04 persen. BPS memantau kedatangan wisman melalui dua pintu utama, yakni Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda dan Pelabuhan Internasional Balohan di Sabang.
Lalu, destinasi apa saja yang paling layak dikunjungi di Aceh saat ini? Berikut lima pilihan utama.

- Kapal PLTD Apung, Saksi Bisu Tsunami di Tengah Permukiman
PLTD Apung adalah destinasi yang sulit ditemukan padanannya di tempat lain: kapal baja raksasa yang berdiri di tengah kampung, jauh dari laut.
Sebelum tsunami, kapal ini berlabuh di Pelabuhan Ulee Lheue. Gelombang setinggi sekitar sembilan meter menyeret kapal sepanjang 63 meter dengan bobot sekitar 2.600 ton itu hingga kira-kira lima kilometer ke daratan. Sumber lain menyebut jarak yang lebih pendek; Wikipedia mencatat kapal terbawa dua hingga tiga kilometer ke darat.
Kapal pembangkit listrik milik PLN yang kini berada di Gampong Punge Blang Cut itu telah menjadi destinasi wisata edukasi, religi, dan sejarah yang paling ikonik di Banda Aceh. Pada 2012–2013, kawasan ini direnovasi dan dilengkapi menara, monumen, jalur flying walk, area jogging, serta air mancur.
Pemko Banda Aceh berharap PLTD Apung bisa naik kelas. Illiza meminta dukungan penuh Kementerian Pariwisata untuk mengembangkan situs itu sebagai destinasi wisata halal dan edukasi bertaraf nasional.
- Museum Tsunami Aceh, Ruang Refleksi yang Selalu Ramai
Tak jauh dari PLTD Apung, Museum Tsunami Aceh menjadi magnet kunjungan keluarga saat libur panjang.
Museum ini mengajak pengunjung memahami tsunami lewat ruang-ruang reflektif, seperti lorong tsunami (space of fear) yang menggambarkan suasana saat gelombang datang, serta sumur doa (space of sorrow) yang dindingnya memuat sekitar 3.600 nama korban.
Lonjakan pengunjung terasa pada libur Iduladha lalu. “Jumlah pengunjung hari ini mencapai 6.201 orang,” kata Kepala UPTD Museum Tsunami Aceh, M Syahputra Azwar, Sabtu (30/5/2026), seperti dikutip AJNN. Angka itu terdiri dari 4.724 pengunjung dewasa, 1.356 anak-anak, dan 121 wisatawan asing, jauh di atas rata-rata akhir pekan biasa yang berkisar 1.000 hingga 2.000 orang.
Pengelola menargetkan 290.000 hingga 300.000 kunjungan sepanjang 2026. Museum ini juga mulai beralih ke konsep digital, antara lain lewat teknologi interaktif dan visualisasi multimedia untuk menarik generasi muda.
- Masjid Raya Baiturrahman, Ikon yang Selamat dari Tsunami
Belum lengkap ke Banda Aceh tanpa singgah di Masjid Raya Baiturrahman. Masjid ini dipandang sebagai simbol agama, budaya, semangat, dan perjuangan rakyat Aceh, sekaligus bangunan yang bertahan saat tsunami 2004.
Bangunan awalnya didirikan pada 1612 di masa Sultan Iskandar Muda dengan atap bertingkat khas arsitektur Aceh. Kini masjid ini memiliki tujuh kubah dan delapan menara. Daya tampungnya mencapai sekitar 30.000 jemaah.
Pengunjung disarankan datang menjelang magrib, saat halaman marmer dan payung-payung raksasa di pelataran masjid tampak paling fotogenik. Wisatawan juga wajib berbusana sopan dan menutup aurat.

- Pulau Weh dan Pantai Iboih, Titik Nol Indonesia
Untuk wisata bahari, Sabang di Pulau Weh masih menjadi pilihan utama. Sabang dikenal sebagai kota paling utara sekaligus paling barat Indonesia, dengan pusat kota sekitar 17 kilometer di utara Banda Aceh.
Dari Pelabuhan Ulee Lheue, wisatawan bisa menyeberang dengan kapal cepat sekitar 45 menit atau kapal feri sekitar dua jam. Pantai Iboih berada di sisi barat pulau, sekitar 20 kilometer dari pusat kota Sabang atau 40 menit dari Pelabuhan Balohan.
Warga setempat sebenarnya menyebut kawasan ini “Teupin Layeu”. Airnya jernih kehijauan sehingga keindahan bawah laut bisa terlihat bahkan tanpa menyelam. Ombaknya relatif tenang sehingga aman bagi pemula yang ingin snorkeling, sementara penyelam berpengalaman bisa menjelajahi dinding karang dan bangkai kapal.
Pulau Rubiah yang tak berpenghuni berada tepat di seberang Iboih dan bisa dicapai dengan perahu sekitar 10 menit. Rangkaian wisata di Pulau Weh biasanya ditutup dengan menikmati matahari terbenam di Tugu Kilometer Nol.

- Danau Lut Tawar dan Takengon, Bangkit Setelah Bencana
Di dataran tinggi Gayo, Takengon menawarkan suasana yang berbeda dari pesisir. Danau Lut Tawar yang luasnya lebih dari 5.000 hektare menjadi daya tarik utama, dengan suhu udara sekitar 16–24 derajat Celsius dan titik panorama seperti Pantan Terong yang menyajikan lautan awan.
Kuliner khas di sekitar danau adalah ikan depik, ikan yang hanya ada di Aceh Tengah, yang diolah menjadi pepes hingga balado. Wisatawan juga bisa mengunjungi kebun dan kedai kopi Gayo, komoditas unggulan daerah ini.
Kawasan ini sempat terpukul bencana. Longsor besar menerjang kawasan wisata Mendale di tepi danau pada 26 November 2025 dan mengganggu sejumlah akses jalan. Pos Komando Tanggap Darurat mencatat 225 destinasi wisata di Aceh rusak akibat bencana hidrometeorologi, dan kini mulai direhabilitasi.
Pemulihan mulai terlihat. Data Mobile Positioning Data (MPD) Telkomsel mencatat 62.153 kunjungan wisatawan ke Aceh Tengah selama April 2026. Akses jalan kini sudah bisa dilalui, meski kekhawatiran masih muncul saat hujan turun terus-menerus.
“Takengon aman untuk dikunjungi, tetapi rasa trauma akibat pemberitaan bencana masih membayangi wisatawan,” ujar Miftah, Operational Manager Fairuz Hotel by Calandra Takengon, seperti dilansir KBA.ONE.
Desa Wisata Nusa, Alternatif Wisata Berbasis Warga
Selain lima destinasi utama, Gampong Nusa di Aceh Besar layak masuk daftar kunjungan. Desa yang dikelilingi perbukitan dan sawah ini pernah masuk 50 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2021.
Warga setempat mengelola langsung berbagai pengalaman wisata, mulai dari kuliner tradisional, kriya, seni budaya, hingga homestay.
Redaksi : acehnarasi.com








