Tari Pho hingga Bahasa Aceh, Deretan Warisan Budaya Aceh di Ambang Punah

oleh -148 Dilihat
Rumoh Aceh di kompleks Museum Aceh, Banda Aceh.

BANDA ACEH, acehnarasi.com  – Sejumlah kesenian tradisi, seni tutur, rumah adat, hingga bahasa ibu masyarakat Aceh kini berstatus punah atau terancam punah. Kajian lembaga kebudayaan dan peneliti bahasa menunjukkan regenerasi pewarisnya nyaris terputus.

Temuan Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Aceh, yang dimuat dalam naskah akademik Rancangan Qanun Pemajuan Kebudayaan Aceh di laman DPR Aceh, menyebut banyak karya seni yang dahulu pernah ada kini tidak dapat disaksikan lagi.

Salah satunya Tari Pho dari pesisir barat Aceh. Tarian ini dahulu menjadi primadona, tetapi kini namanya bahkan tidak pernah terdengar lagi.

Nasib serupa menimpa seni Sining dari dataran tinggi Gayo. Hanya generasi berusia di atas 45 tahun yang masih samar-samar mengingat seni ini pernah ada, dan kini Sining dipahami telah punah.

Empat Kesenian Pernah Direvitalisasi

Di pesisir timur, Rapa’i Geurimpheng terancam punah karena banyak tetua yang ahli membuatnya sudah meninggal dunia. Sementara di Kluet, Aceh Selatan, Landoq Sampot hanya menyisakan generasi terakhir penguasanya, sehingga tarian ini akan hilang bila mereka tiada.

Pemerintah pusat sebenarnya pernah turun tangan. Pada 2016, Direktorat Kesenian Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bersama BPNB Aceh merevitalisasi empat kesenian yang nyaris punah, yakni Tari Sining dari Aceh Tengah, Landoq Sampot dari Aceh Selatan, Tari Laweuet dari Banda Aceh, dan Rapai Geurimpheng dari Pidie.

Program itu berlangsung sejak Maret hingga November 2016 dan ditutup dengan pagelaran di Taman Budaya Banda Aceh. Jumlah yang direvitalisasi masih jauh dari kebutuhan. Laporan repositori kementerian mencatat keempat kesenian tersebut dipilih dari 32 jenis kesenian yang terdata. Sebuah kajian akademik lain mengutip Kepala Balai Pelestarian Budaya Aceh bahwa terdapat 30 jenis kesenian di Aceh yang hampir punah.

Data nasional menunjukkan tren yang sama. Kompas mencatat Aceh sebagai provinsi dengan jumlah seni sastra terancam punah terbanyak di Indonesia, yaitu lima kesenian, ditambah enam seni tari yang juga terancam.

Bahasa Aceh Berstatus Terancam

Ancaman tidak hanya menimpa seni pertunjukan. Peneliti Bahasa, Sosial, dan Humaniora Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Iskandar Syahputera, menyebut bahasa Aceh berada dalam status definitely endangered atau terancam punah.

Pada skala keterancaman bahasa UNESCO dari 5 hingga 0, vitalitas bahasa Aceh berada di level 3. Temuan ini berasal dari penelitiannya pada 2024 tentang vitalitas bahasa Aceh dan kaitannya dengan kebijakan bahasa daerah.

Menurut Iskandar, penyebab utamanya adalah putusnya pewarisan bahasa ke generasi berikutnya. Banyak keluarga dengan ayah dan ibu orang Aceh yang tidak lagi memakai bahasa ibu di rumah. Ia menegaskan dampaknya bagi identitas Aceh.

“Maka akhirnya hilanglah peradaban kita,” kata Iskandar di Banda Aceh, Rabu (26/2/2025), sebagaimana dikutip ANTARA.

Bahasa Gayo bernasib serupa. Kajian bersama Balai Bahasa Provinsi Aceh pada 2019 menempatkan bahasa Gayo juga dalam tingkatan terancam punah.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh menguatkan temuan tersebut. Berdasarkan Sensus Penduduk 2020, penggunaan bahasa daerah oleh anak usia 2–9 tahun hanya 64,36 persen, jauh di bawah generasi berusia di atas 75 tahun yang mencapai 89,93 persen.

Aceh sebenarnya sudah memiliki payung hukum. Qanun Aceh Tahun 2022 tentang Bahasa Aceh menjadi dasar pelindungan, pengembangan, pembinaan, dan pemeliharaan bahasa, aksara, dan sastra Aceh. Qanun itu mengakui keragaman bahasa daerah di Aceh, antara lain Aceh, Gayo, Tamiang, Alas, Jamee, Kluet, Devayan, Sigulai, Singkil, dan Haloban.

RUMOH ACEH 2
Rumoh Acèh di Piyeung Datu, Montasik, Aceh Besar.

Hikayat Kehilangan Penutur

Seni tutur hikayat juga kian sepi penerus. Tokoh terpentingnya, Teungku Adnan PMTOH, wafat pada usia 75 tahun dan meninggalkan kecemasan karena tidak ada pewaris bakat berhikayat sekaliber dirinya, sementara regenerasi berjalan sangat lambat.

Kemunduran seni ini punya akar sejarah panjang. Hikayat mulai tergerus sejak pembersihan seniman pascapembubaran PKI. Pada masa konflik, banyak warga juga takut memanggungkannya. Pada 2011, seorang pembaca hikayat memperkirakan penghafal hikayat Aceh kuno di Aceh Selatan tinggal sekitar enam orang, dan rata-rata sudah lanjut usia.

Beberapa nama masih bertahan. Salah satunya Agus Nur Amal, yang dijuluki Agus PMTOH karena dianggap penerus almarhum Adnan PMTOH. Di Aceh Utara ada Tgk. Ibrahim PMTOH, yang mewarisi seni hikayat dari Tgk. Adnan PMTOH pada era 1980-an.

Rumoh Aceh Kian Langka

Warisan arsitektur pun terancam. Balai Pelestarian Cagar Budaya Aceh mencatat Rumoh Aceh sebagai tempat tinggal orang Aceh tempo dulu kini hampir hilang dan hanya tersisa di beberapa tempat, antara lain di kompleks Museum Aceh dan Rumah Cut Nyak Dhien di Lampisang.

Faktor ekonomi menjadi penyebab utama. Biaya pembuatan dan perawatan yang makin mahal membuat semakin sedikit orang Aceh yang membangun rumah tradisional ini.

Upaya Menghidupkan Kembali

Sejumlah komunitas mulai bergerak. Majelis Seniman Aceh (MaSA) bersama Universitas Bina Bangsa Getsempena menggelar workshop meurukon, tradisi Aceh yang hampir punah, pada Jumat, 12 Juni 2026.

“Ini penting supaya anak-anak Aceh punya jati diri sendiri yang Islami,” kata Ketua Umum MaSA, Chairiyan Ramli, sebagaimana dikutip Acehinfo.

Di Aceh Utara, peneliti LPPM ISBI Aceh, Rasyidin, M.Sn., kembali memperkenalkan kesenian Mop-Mop yang hampir punah kepada siswa SMAN Modal Bangsa Arun pada Mei 2026. Kesenian yang juga dikenal sebagai biola Aceh ini jarang tampil karena tidak ada generasi muda yang berminat mempelajarinya, termasuk berbalas pantun secara spontan.

Kekhawatiran juga datang dari legislatif daerah. Anggota DPRK Lhokseumawe, H. Jailani, prihatin karena banyak anak kini tidak mengenal alat musik tradisional seperti rapa’i dan serunee kalee.

“Jangan sampai budaya yang hampir tidak kita lihat lagi benar-benar hilang,” kata Jailani, dikutip RRI. (fuu)

Catatan : Berbagai sumber.

Redaksi : acehnarasi.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.