Menapaki Jejak Sejarah Islam di Alexandria : Ziarah untuk Mengambil Hikmah dan Memperkuat Keimanan

oleh -228 Dilihat
Rombongan Aceh "Ziarah Bumi Para Nabi" berfoto bersama di depan Benteng Qaitbay, bangunan pertahanan bersejarah di pesisir Alexandria, Mesir, yang dibangun pada abad ke-15 di lokasi bekas Mercusuar Alexandria.

ALEXANDRIA, MESIR, acehnarasi.com — Perjalanan rombongan Aceh “Ziarah Bumi Para Nabi” (Mesir–Aqsha–Jordan) di Kota Alexandria, Mesir, menjadi kesempatan untuk menelusuri jejak sejarah, mengenal warisan peradaban, sekaligus memperkuat nilai-nilai spiritual melalui kunjungan ke sejumlah situs bersejarah.

Dalam rangkaian perjalanan yang berlangsung pada 22 Oktober hingga 1 November 2026 tersebut, rombongan mengunjungi Masjid Nabi Daniel, sebuah masjid bersejarah di pusat Kota Alexandria yang dalam tradisi setempat dikaitkan dengan makam Nabi Daniel AS dan Luqmanul Hakim.

Kunjungan ini menjadi momentum bagi peserta untuk mengenal tradisi sejarah setempat sekaligus merefleksikan nilai-nilai keimanan dan kebijaksanaan yang diwariskan dalam ajaran Islam.

Waled Ibrahim menegaskan bahwa ziarah ke tempat-tempat bersejarah hendaknya tidak sekadar menjadi perjalanan untuk mengunjungi makam, tetapi juga menjadi sarana mengambil pelajaran, mengingat kehidupan dan kematian, serta memperkuat hubungan dengan Allah SWT.

Menurutnya, perjalanan ziarah memiliki nilai penting dalam membangun kesadaran spiritual dan mendorong seseorang untuk terus memperbaiki diri.

“Tujuan ziarah ini bukan sekadar mengunjungi makam, tetapi juga untuk mengambil pelajaran dari sejarah, mengingatkan diri akan kehidupan dan kematian, serta memperkuat hubungan kita dengan Allah SWT. Kita berharap perjalanan ini membawa keberkahan, menambah ilmu, dan menjadikan kita pribadi yang lebih baik,” demikian pesan Waled Ibrahim dalam narasi perjalanan tersebut.

Sosok Luqmanul Hakim sendiri dikenal melalui nasihat-nasihat penuh hikmah yang diabadikan dalam Al-Qur’an, khususnya Surah Luqman. Nasihat tersebut mengajarkan ketauhidan, rasa syukur, penghormatan kepada orang tua, kesabaran, dan pentingnya menjaga perilaku dalam kehidupan sehari-hari.

Mengunjungi Benteng Qaitbay, Saksi Sejarah Pertahanan Alexandria

Selain mengunjungi situs religi, rombongan juga menyambangi kawasan Benteng Qaitbay (Citadel of Qaitbay), salah satu bangunan bersejarah paling terkenal di Alexandria. Benteng yang berdiri kokoh di pesisir Laut Mediterania ini menjadi saksi perjalanan panjang sejarah pertahanan Mesir sekaligus ikon wisata sejarah kota tersebut.

Benteng Qaitbay dibangun atas perintah Sultan Al-Ashraf Qaitbay, penguasa Dinasti Mamluk, pada 1477–1479 M. Bangunan ini didirikan di lokasi bekas Mercusuar Alexandria, sebuah mercusuar legendaris yang termasuk dalam Tujuh Keajaiban Dunia Kuno dan mengalami kehancuran akibat gempa bumi.

Pembangunan benteng tersebut memiliki tujuan strategis, yakni memperkuat pertahanan pesisir dan melindungi pelabuhan Alexandria dari ancaman serangan laut. Dengan konstruksi batu kapur yang kokoh, menara pertahanan, serta tembok berlapis, benteng ini mencerminkan kemampuan arsitektur militer pada masa Dinasti Mamluk.

ZIARAH MAKAM NABI DANIL

Bagi rombongan Aceh Ziarah Bumi Para Nabi, kunjungan ke Benteng Qaitbay menjadi kesempatan untuk mengenal lebih dekat sejarah Mesir yang kaya akan warisan peradaban. Peserta juga mengabadikan kebersamaan di depan benteng sebagai bagian dari dokumentasi perjalanan lintas negara tersebut.

Keberadaan Benteng Qaitbay memperlihatkan bahwa Alexandria bukan hanya memiliki tempat-tempat penting dalam tradisi keagamaan, tetapi juga menyimpan warisan sejarah yang berharga bagi perkembangan peradaban dunia.

Ziarah sebagai Sarana Memperkuat Ukhuwah

Rangkaian kunjungan ke Masjid Nabi Daniel dan Benteng Qaitbay memberikan pengalaman yang memadukan perjalanan religi, pembelajaran sejarah, dan pengenalan budaya Mesir.

Waled Ibrahim berharap perjalanan tersebut dapat memberikan manfaat bagi seluruh peserta, tidak hanya dalam menambah pengetahuan tentang sejarah, tetapi juga dalam mempererat ukhuwah Islamiyah dan meningkatkan kualitas keimanan.

Melalui perjalanan ini, peserta diharapkan mampu mengambil hikmah dari setiap tempat yang dikunjungi, menjadikan sejarah sebagai sumber pembelajaran, serta membawa pulang nilai-nilai kebaikan untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Perjalanan rombongan Aceh Ziarah Bumi Para Nabi pun menjadi pengingat bahwa ziarah bukan semata-mata tentang menapaki tempat-tempat bersejarah, melainkan juga tentang memperdalam refleksi diri, memperkuat persaudaraan, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. (fns)

Redaksi : acehnarasi.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.