Dua Agenda Akademik di Aceh, Dirjen Saintek Ahmad Najib Burhani Soroti Masa Depan AI dan Etika Islam

oleh -84 Dilihat
Dirjen Saintek Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof. Dr. Ahmad Najib Burhani, M.A., di kampus USM Banda Aceh, Kamis (29/10/2026).

BANDA ACEH, acehnarasi.com – Penguasaan kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) tidak cukup hanya bertumpu pada kemampuan teknis. Pengembangan teknologi juga membutuhkan kekuatan riset, landasan etika, dan orientasi kemaslahatan manusia.

Pesan tersebut menjadi benang merah dari dua agenda akademik yang dihadiri Direktur Jenderal Sains dan Teknologi (Dirjen Saintek) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek), Prof. Dr. Ahmad Najib Burhani, M.A., di Banda Aceh, Kamis (29/10/2026).

Dalam satu hari, Ahmad Najib Burhani tampil sebagai pembicara utama sekaligus membuka Seminar Nasional Omni Scientia (SNOS) 2026 di Universitas Serambi Mekkah (USM). Ia kemudian melanjutkan agenda dengan memberikan kuliah umum di Universitas Muhammadiyah Aceh (Unmuha).

Dua forum tersebut mengangkat perspektif yang saling berkaitan mengenai tantangan dunia pendidikan tinggi dalam menghadapi transformasi teknologi. Di satu sisi, perguruan tinggi dituntut menguasai perkembangan AI dan memperkuat penelitian. Di sisi lain, kemajuan tersebut harus tetap berada dalam koridor etika dan nilai-nilai kemanusiaan.

USM RAME
Dirjen Saintek Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof. Dr. Ahmad Najib Burhani, M.A., bersama sivitas akademika USM dalam pemukaan Seminar Nasional Omni Scientia (SNOS) 2026 di Universitas Serambi Mekkah (USM) Banda Aceh, Kamis (29/10/2026).

AI dan Hilirisasi Riset untuk Inovasi Berdampak

Dalam forum SNOS 2026 di USM, Ahmad Najib Burhani menempatkan perkembangan kecerdasan buatan sebagai realitas baru yang harus direspons secara serius oleh perguruan tinggi.

Menurutnya, AI menghadirkan peluang luas bagi pengembangan ilmu pengetahuan, pelaksanaan penelitian, pengolahan data, hingga penciptaan inovasi. Potensi tersebut perlu diimbangi dengan peningkatan literasi teknologi dan kapasitas riset agar perguruan tinggi tidak tertinggal dalam menghadapi perubahan.

Tantangannya bukan sekadar mengenalkan teknologi baru di lingkungan akademik, melainkan membangun kemampuan institusi pendidikan tinggi untuk memanfaatkannya dalam menghasilkan inovasi yang berguna bagi masyarakat.

Gagasan tersebut sejalan dengan tema SNOS 2026, Inovasi Sains dan Teknologi Menuju Indonesia Emas 2045: Integrasi Artificial Intelligence dan Hilirisasi Riset untuk Inovasi Berdampak.

Melalui integrasi AI dan hilirisasi riset, hasil penelitian diharapkan tidak berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi dapat dikembangkan menjadi produk, teknologi, kebijakan, maupun solusi yang menjawab kebutuhan masyarakat.

SNOS 2026 diselenggarakan melalui kolaborasi LLDIKTI Wilayah XIII dan USM. Selain Ahmad Najib Burhani, seminar tersebut menghadirkan Prof. Asnawi Abdullah, S.KM., MHSM., MSc., Ph.D., Kepala Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Kementerian Kesehatan RI; Prof. Faris Al-Fadhat, M.A., Ph.D., Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY); serta Prof. Dr. Syaukani, S.Si., M.Si., Guru Besar Entomologi Universitas Syiah Kuala.

Plt. Rektor USM, Dr. Muslem Daud, M.Ed., menyampaikan apresiasi kepada LLDIKTI Wilayah XIII atas kepercayaan menjadikan USM sebagai tuan rumah SNOS 2026. Ia menyambut para peserta dan narasumber sekaligus menegaskan komitmen kampus dalam meningkatkan mutu pendidikan melalui pelaksanaan tridarma perguruan tinggi.

Muslem menjelaskan, USM telah meraih akreditasi institusi Baik Sekali. Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) USM juga berada pada klaster Madya dan perguruan tinggi tersebut telah memiliki seorang guru besar.

Menurutnya, capaian tersebut menjadi motivasi bagi USM untuk terus meningkatkan kualitas akademik, mengembangkan penelitian, dan memperluas kerja sama kelembagaan.

Teknologi dalam Perspektif Etika Islam

Setelah menghadiri SNOS 2026, Ahmad Najib Burhani melanjutkan agenda akademiknya di Unmuha melalui kuliah umum bertajuk Islam dalam Pengembangan Teknologi dan Kecerdasan Artifisial.

Dalam forum ini, perhatian diarahkan pada dimensi lain dari perkembangan teknologi, yakni bagaimana AI dan berbagai inovasi sains ditempatkan dalam kerangka nilai dan tanggung jawab moral.

Ahmad Najib Burhani menekankan bahwa perkembangan teknologi tidak semestinya hanya dipandang dari sisi inovasi teknis. Penguasaan teknologi juga harus berlandaskan etika dan nilai-nilai Islam agar pemanfaatannya dapat mendukung terwujudnya kemaslahatan umat secara berkelanjutan.

Perspektif ini memberikan penekanan bahwa kemajuan teknologi bukan tujuan akhir. Kemampuan manusia menciptakan dan mengembangkan teknologi perlu disertai pertimbangan mengenai manfaat, dampak, serta tanggung jawab dalam penggunaannya.

Dengan demikian, pendidikan tinggi memiliki peran penting dalam menyiapkan generasi yang mampu mengikuti perkembangan sains dan teknologi sekaligus memiliki integritas moral dalam memanfaatkannya.

Rektor Unmuha, Dr. Aslam Nur, M.A., menyampaikan apresiasi atas kunjungan Dirjen Saintek beserta rombongan. Menurutnya, kehadiran Ahmad Najib Burhani menjadi motivasi bagi seluruh sivitas akademika Unmuha untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan.

KULIAH UMUM
Dirjen Saintek Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof. Dr. Ahmad Najib Burhani, M.A., bersama sivitas akademika UNMUHA dalam Kuliah Umum di kampus UNMUHA Banda Aceh, Kamis (29/10/2026).

Aslam menjelaskan, Unmuha saat ini memiliki 23 program studi di bawah tujuh fakultas dan satu program pascasarjana. Salah satu pencapaian terbaru adalah terbitnya izin operasional Program Magister Ilmu Hukum yang telah menerima mahasiswa angkatan pertama.

“Unmuha terus mencatatkan berbagai pencapaian strategis. Raihan hibah penelitian dan pengabdian kepada masyarakat oleh para dosen terus meningkat. Hal ini sejalan dengan prestasi mahasiswa kami yang membanggakan, baik di tingkat regional maupun nasional,” ujar Aslam Nur.

Ia juga berharap Kemendiktisaintek memberikan dukungan berkelanjutan untuk mempercepat peningkatan kualitas pendidikan tinggi di daerah, terutama dalam penguatan sarana dan prasarana kampus serta perluasan alokasi beasiswa.

Menyiapkan Perguruan Tinggi Menghadapi Transformasi Teknologi

Kehadiran Ahmad Najib Burhani dalam dua agenda akademik di Aceh tersebut mempertemukan dua kebutuhan penting dunia pendidikan tinggi: kemampuan menghasilkan inovasi berbasis sains dan teknologi serta tanggung jawab etis dalam pemanfaatannya.

Penguatan literasi AI dan kapasitas penelitian menjadi bagian penting dalam membangun daya saing perguruan tinggi. Namun, kemampuan tersebut perlu berjalan bersama nilai-nilai moral agar inovasi yang dihasilkan tidak kehilangan orientasi kemanusiaan.

Bagi perguruan tinggi di Aceh, dua perspektif yang mengemuka dalam forum USM dan Unmuha tersebut dapat menjadi bahan refleksi untuk memperkuat ekosistem akademik, meningkatkan produktivitas penelitian, dan mempersiapkan sumber daya manusia menghadapi perubahan teknologi.

Pada akhirnya, ukuran kemajuan sains dan teknologi bukan hanya terletak pada seberapa canggih inovasi yang dihasilkan, tetapi juga sejauh mana hasil pengembangannya mampu memberikan manfaat bagi masyarakat. (fns)

Redaksi : acehnarasi.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.