Peuphon Kitab di Makam Syiah Kuala, 200 Santri Dayah Putri Muslimat Samalanga Jemput Berkah Guru

oleh -63 Dilihat
Pimpinan Dayah Putri Muslimat Samalanga, Abah H Tu Ahmadallah.

BANDA ACEH, acehnarasi.com — Sebanyak 200 santri Dayah Putri Muslimat Samalanga Kabupaten Bireuen, mengikuti kegiatan peuphon kitab (memulai kajian kitab) di Komplek Makam Syiah Kuala, Banda Aceh, Rabu (19/08/2026). Kegiatan tersebut turut dihadiri pimpinan dan para guru Dayah Putri Muslimat Samalanga sebagai bagian dari upaya menjaga tradisi keilmuan serta penghormatan terhadap ulama dan para pewaris ilmu Islam. Adapun kitab yang dimaksud adalah kitab I’anah Thalibin (I’anatuth Thalibin) yang dikarang oleh Sayyid Abu Bakar Muhammad Syatha al-Dimyati, atau yang lebih dikenal sebagai Sayyid Bakri Syatha.
Tradisi peuphon kitab atau memulai pengajian kitab baru merupakan salah satu warisan pendidikan Islam yang terus dijaga di lingkungan Dayah Putri Muslimat Samalanga. Kegiatan tersebut bukan sekadar seremoni pembukaan pembelajaran, melainkan mengandung nilai penghormatan terhadap ilmu, guru, dan para ulama pengarang kitab yang ilmunya terus dipelajari dari generasi ke generasi.
Pimpinan Dayah Putri Muslimat Samalanga, Abah H Tu Ahmadallah, mengatakan kegiatan peuphon kitab tersebut merupakan agenda rutin yang dilaksanakan setiap tahun.
Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi bagian penting dalam tradisi pendidikan dayah, khususnya saat para santri akan memulai pengajian kitab baru.
“Kegiatan ini rutin kami lakukan setiap tahun untuk peuphon kitab. Ini merupakan salah satu upaya kita untuk menjemput keberkahan guru dan para ulama,” ujar Abah H Tu Ahmadallah.
Ia mengatakan, pemilihan Komplek Makam Syiah Kuala sebagai lokasi pelaksanaan kegiatan juga memiliki makna tersendiri. Selain menjadi tempat bersejarah bagi perkembangan Islam di Aceh, lokasi tersebut diharapkan dapat mengingatkan para santri akan besarnya jasa para ulama dalam menyebarkan dan mewariskan ilmu pengetahuan, lanjut Abah.

Mengirim Al-Fatihah untuk Pengarang Kitab
Sebelum sebuah kitab mulai dikaji, para santri bersama guru terlebih dahulu membaca Surah Al-Fatihah yang dihadiahkan kepada mushannif atau pengarang kitab.
Tradisi tersebut menjadi simbol penghormatan dan ungkapan terima kasih kepada para ulama terdahulu yang telah mewariskan karya serta ilmu pengetahuan kepada generasi setelah mereka.
Setelah itu, guru atau teungku membacakan bagian awal atau matan kitab secara simbolis di hadapan para santri. Dari sinilah proses pengkajian kitab baru secara resmi dimulai.

Bukan Sekadar Seremoni
Bagi santri Dayah Putri Muslimat Samalanga, kegiatan peuphon kitab bukan sekadar acara seremonial. Tradisi tersebut menjadi momentum refleksi atas perjalanan pendidikan yang telah dilalui sekaligus awal untuk menumbuhkan semangat baru dalam menuntut ilmu.
Kegiatan ini juga menjadi bagian dari pembentukan karakter santri. Para pimpinan dan guru memberikan nasihat, motivasi serta pembekalan akhlak agar santri tidak hanya berhasil menguasai ilmu, tetapi juga mampu menjaga adab dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam tradisi pendidikan dayah, ilmu dan akhlak merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Tingginya ilmu seseorang harus diiringi dengan kerendahan hati, penghormatan kepada guru serta kesediaan untuk memberikan manfaat kepada masyarakat.

Abah Tu Ahmadallah

Mengharap Keberkahan Ilmu
Tradisi peuphon kitab juga erat kaitannya dengan semangat tabarruk atau mengharap keberkahan. Para santri meyakini bahwa keberkahan dalam menuntut ilmu dapat diperoleh melalui penghormatan kepada guru, para ulama, pengarang kitab serta menjaga adab selama proses belajar.
Pemilihan Komplek Makam Syiah Kuala sebagai lokasi pelaksanaan peuphon kitab juga menjadi sarana pembelajaran bagi para santri tentang perjalanan ulama Aceh. Para santri diharapkan dapat mengambil pelajaran bahwa orang yang mengabdikan hidupnya untuk ilmu dan kemaslahatan umat akan terus dikenang meskipun telah meninggalkan dunia.
Dengan pelaksanaan peuphon kitab yang diikuti 200 santri bersama pimpinan dan para guru di Komplek Makam Syiah Kuala, Banda Aceh, Dayah Putri Muslimat Samalanga kembali menegaskan pentingnya menjaga tradisi, adab dan keberkahan dalam perjalanan menuntut ilmu.
Harapannya, melalui kegiatan rutin ini para santri semakin mencintai ilmu, menghormati guru dan ulama, serta kelak mampu mengamalkan ilmu yang diperoleh untuk memberi manfaat bagi agama, masyarakat dan bangsa. (fns)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.