Curah Hujan Naik hingga Desember, Mualem Surati Kepala Daerah se-Aceh Siaga Bencana

oleh -202 Dilihat

Banda Aceh, acehnarasi.com  – Pemerintah Aceh menyurati seluruh bupati dan wali kota agar menyiapkan langkah antisipasi bencana hidrometeorologi. Langkah ini diambil menyusul prakiraan naiknya curah hujan di sejumlah wilayah Aceh pada Oktober hingga Desember 2026.

Arahan Gubernur Aceh Muzakir Manaf, yang akrab disapa Mualem, itu diumumkan Juru Bicara Pemerintah Aceh Nurlis Effendi di Banda Aceh, Kamis (17/9/2026). Menurut Nurlis, periode tersebut perlu diantisipasi sejak dini oleh pemerintah kabupaten/kota bersama jajarannya.

“Langkah itu perlu dilakukan untuk mengantisipasi dampak dari peningkatan intensitas curah hujan yang akan terjadi selama kurun waktu tiga bulan ke depan,” kata Nurlis.

Arahan tertulis tersebut termuat dalam surat bernomor 300.2/11114 yang terbit pada 14 September 2026. Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Daerah Aceh Taufik menandatangani surat itu atas nama gubernur.

Surat tersebut disusun berdasarkan data prakiraan hujan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Kelas II Aceh. BMKG memperkirakan hujan berintensitas menengah sampai tinggi akan turun di sejumlah daerah di Aceh sepanjang Oktober–Desember 2026.

Rekomendasi Berbeda Tiap Wilayah

BMKG menyusun rekomendasi antisipasi yang dibedakan menurut kondisi hujan di tiap daerah.

Daerah yang diperkirakan diguyur hujan tinggi sampai sangat tinggi perlu bersiap menghadapi ancaman banjir dan tanah longsor. Warga diminta menjaga kebersihan lingkungan dan memastikan saluran air tidak tersumbat.

Setiap keluarga juga dianjurkan menyiapkan Tas Siaga Bencana, yaitu tas berisi dokumen penting dan perlengkapan kebutuhan dasar. Selain itu, instalasi listrik dan harta benda perlu diamankan.

Masyarakat diingatkan untuk terus mengikuti perkembangan peringatan dini BMKG dan siap mengungsi bila situasi menuntut.

Di sisi lain, daerah dengan prakiraan hujan rendah diarahkan untuk memakai air secara hemat dan menjalankan upaya konservasi. Pemerintah setempat didorong menambah sarana peresap dan penampung air, di antaranya lubang biopori, sumur resapan, dan embung.

Bagi sektor pertanian, BMKG menyarankan pemilihan varietas tanaman yang mampu bertahan di lahan kering. Kewaspadaan terhadap kebakaran hutan dan lahan juga perlu ditingkatkan.

Tanah Bekas Bencana Masih Labil

Surat tersebut bukan peringatan pertama dari gubernur. Nurlis menuturkan, Mualem sudah lebih dulu meminta warga berhati-hati karena Aceh telah memasuki musim penghujan.

Peringatan itu muncul setelah pemerintah menerima laporan longsor di beberapa daerah. Menurut Nurlis, gubernur menyoroti kondisi tanah di lokasi yang pernah dilanda bencana.

“Pak Gubernur menyampaikan bahwa bencana hidrometeorologi yang terjadi setahun lalu membuat tanah di kawasan bencana belum kokoh dan labil,” ujarnya.

Ancaman bencana di musim hujan juga sudah disinggung Mualem pada 3 September 2026.

“Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian bersama karena dapat meningkatkan risiko terjadinya banjir, longsor, dan bencana lainnya di sejumlah wilayah,” kata Mualem.

Mualem meminta upaya kesiapsiagaan tidak dijalankan sendiri-sendiri. Ia mengajak Forkopimda Aceh, TNI dan Polri, pemerintah kabupaten/kota, instansi terkait, serta kalangan perguruan tinggi untuk terlibat.

Sinergi berbagai pihak itu diharapkan memperkuat kesiapan daerah dan membuat respons lebih cepat saat bencana datang. Keselamatan warga juga diharapkan tetap menjadi prioritas utama. (fau)

Redaksi : acehnarasi.com

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.