Pendiri Serambi Indonesia H Sjamsul Kahar Meninggal Dunia, Aceh Kehilangan Tokoh Pers Tiga Zaman

oleh -164 Dilihat
"Selamat Jalan Tokoh Pers Aceh"

BANDA ACEH, acehnarasi.com – Tokoh pers Aceh sekaligus pendiri Harian Serambi Indonesia, H Sjamsul Kahar, meninggal dunia di RSUD dr Zainoel Abidin (RSUDZA), Banda Aceh, Kamis (24/9/2026) pukul 02.20 WIB, dalam usia 80 tahun.

Sjamsul Kahar dirawat intensif di RSUDZA sejak 13 September 2026. Istri, anak-anak, dan keluarga mendampinginya selama perawatan hingga ia wafat.

Almarhum adalah ayah kandung Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria. Nezar menyampaikan kabar duka itu melalui media sosial pribadinya. Dalam unggahan tersebut, ia menyebut ayahnya sebagai Pemimpin Umum dan Pendiri Harian Serambi Indonesia.

“Bapak telah meninggalkan kita semua,” kata Nezar Patria seperti dikutip Kompas, Kamis (24/9).

Menurut Nezar, jenazah disemayamkan di rumah duka di Jalan Utama Keutapang-Mata Ie, Lorong Hikmah, Gampong Gue Gajah, Kabupaten Aceh Besar. Keluarga merencanakan almarhum disalatkan di Masjid Al-Anshar, Gampong Mulia, Banda Aceh, seusai salat Zuhur. Setelah itu, almarhum dimakamkan di TPU Taman Abadi, Gampong Mulia, Kecamatan Kuta Alam.

“Bagi kami di keluarga, tentu saja kehilangan sangat besar karena almarhum memberikan begitu banyak inspirasi buat keluarga. Seorang ayah yang bertanggung jawab dan tidak sekalipun almarhum itu mengabaikan tanggung jawabnya untuk keluarga,” ujar Nezar sebagaimana dikutip aceh.tribunnews.com (24/09/2026).

Duka Insan Pers Aceh

Kabar meninggalnya Sjamsul Kahar cepat beredar di berbagai grup WhatsApp jurnalis Aceh. Ucapan belasungkawa datang dari organisasi pers dan wartawan lintas generasi.

“Semoga amal ibadah almarhum diterima di sisi Allah SWT. Beliau orang yang sangat baik,” kata Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Banda Aceh, Reza Munawir, seperti dikutip Antara, Kamis (24/9).

Ketua Serikat Perusahaan Pers (SPS) Aceh, Muktarrudin Usman, menilai Sjamsul Kahar sebagai bagian dari perjalanan panjang perusahaan pers dan perkembangan pers di Aceh.

“Hari ini kita kehilangan seorang tokoh pers,” ujar Muktarrudin seperti dikutip Kabarindoraya.com.

Pemimpin Redaksi Komparatif.id, Muhajir Juli, juga menyampaikan dukacita. Ia menyebut Sjamsul Kahar sebagai panutan dan guru jurnalistik. Di kalangan wartawan, almarhum akrab disapa “Atok”.

“Semoga Allah menempatkan arwahnya di sisi terbaik. Saya ikut berdukacita,” kata Muhajir.

 Kelahiran

Sjamsul Kahar bin M Daham Nuh lahir di Sigli, Kabupaten Pidie, pada 9 Oktober 1945.

Profil dan Keluarga

Sjamsul Kahar meninggalkan seorang istri, Cut Khasnawiyah, dan empat anak, yakni Rita Krisna, Nezar Patria, Sandy Septian, dan Maulana Akbar.

Keluarga besar Serambi Indonesia dan para mantan karyawannya memanggilnya “Atok”.

Ia dikenal sebagai sosok yang menjunjung integritas dan etika jurnalistik, serta konsisten mengawal isu pembangunan dan kepentingan masyarakat Aceh. Ia juga kerap memberikan pemikiran dan masukan untuk pembangunan Aceh.

Minatnya juga menjangkau dunia seni. Di sela pekerjaannya sebagai wartawan, Sjamsul menekuni teater dan musik hingga menghasilkan sejumlah karya drama.

Menjadi Wartawan

Sjamsul Kahar memulai karier jurnalistik di Harian Atjeh Post. Ia kemudian bergabung dengan Harian Kompas dan menulis dengan inisial SJK.

Ia tercatat sebagai wartawan Kompas sejak 1977. Pusat Informasi Kompas (PIK) mendokumentasikan sedikitnya 1.146 karyanya, terhitung sejak 22 Maret 1980 hingga 26 November 2000.

Merintis Serambi Indonesia

Bersama rekan sekampungnya, M Nourhalidyn, wartawan Tabloid Mimbar Swadaya, Sjamsul menemui Jakob Oetama untuk meminta dukungan mendirikan koran di Aceh.

Jakob Oetama mendukung rencana itu dan mengirim sejumlah wartawan senior untuk mendampingi kelahiran koran tersebut, antara lain Valens G Doy dan Trias Kuncahyono. Sjamsul dan Nourhalidyn juga menemui Gubernur Aceh Ibrahim Hasan untuk menyampaikan rencana itu.

Serambi Indonesia merupakan pengembangan dari Mingguan Mimbar Swadaya, yang terbit sejak dekade 1970-an. Harian ini terbit perdana pada 9 Februari 1989, bertepatan dengan Hari Pers Nasional.

Saat menjadi harian, Nourhalidyn dipercaya sebagai Pemimpin Umum, sedangkan Sjamsul Kahar menjabat Pemimpin Redaksi. Kala itu, Sjamsul juga masih bertugas sebagai wartawan Kompas di Aceh.

Serambi Indonesia kemudian berkembang menjadi salah satu koran daerah terbesar di jaringan Kompas Gramedia. Menurut Kompas, pemberitaan yang mengedepankan jurnalisme damai membuat koran itu tumbuh pesat di Aceh.

Melewati Konflik dan Tsunami

Kiprah Sjamsul memimpin Serambi Indonesia berlangsung di tengah masa sulit. Pada 1999, saat konflik Aceh, rumahnya diserang bom molotov. Ia juga menerima ancaman kematian terkait pekerjaannya sebagai pimpinan redaksi.

Ujian terberat datang saat tsunami melanda Aceh pada 26 Desember 2004. Bencana itu menghancurkan kantor dan mesin cetak Serambi Indonesia, dan puluhan pekerjanya menjadi korban atau hilang. Koran tersebut sempat berhenti terbit.

Sjamsul dan rekan-rekannya memilih menghidupkan kembali Serambi Indonesia. Pada 1 Januari 2005, enam hari setelah tsunami, koran itu terbit lagi dengan sumber daya terbatas, menggunakan mesin cetak di Lhokseumawe.

Seiring perkembangan zaman, Serambi Indonesia merambah ranah digital melalui Serambinews.com dan memperluas jangkauannya lewat Radio Serambi FM.

Sejarah Jabatan di PWI Aceh

Sjamsul Kahar memimpin Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Aceh selama tiga periode, yaitu 1985–1991, 1991–1995, dan 1995–1999. Selama menjabat, ia masih tercatat sebagai wartawan Harian Kompas.

Pada masa kepemimpinannya, dimulai pembangunan Gedung PWI Aceh di Jalan T Angkasah, Simpang Lima, Banda Aceh. Gedung itu dibangun pada kepengurusan periode 1991–1995.

Portalnusa mencatat, Sjamsul Kahar juga menjabat Ketua Penasihat PWI Aceh periode 2021–2026.

Hingga usia senja, ia tetap menaruh perhatian pada sejarah pers. Pada 2023, saat PWI Aceh menampilkan sejarah organisasi di Pekan Kebudayaan Aceh, ia menekankan pentingnya sejarah pers diketahui masyarakat dan generasi muda.

Guru bagi Wartawan Muda

Sjamsul Kahar dikenal rajin mengajar jurnalistik kepada anggota pers mahasiswa di berbagai kampus di Aceh. Menurut catatan Kompas, pada 1997 ia melatih jurnalistik dasar anggota baru UKM Pers Perspektif, Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala.

Diskusi yang dijadwalkan satu jam itu berlangsung sekitar tiga jam. Ia membahas demokrasi, etika jurnalistik, dan pengalamannya sebagai wartawan.

Kepada calon wartawan, ia berpesan agar jurnalistik dijadikan jalan untuk membawa perdamaian dan kemajuan Aceh dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Di bawah kepemimpinannya, banyak wartawan lahir dan dibina hingga menjadi pilar pers di Aceh. Seorang mantan wartawan Serambi Indonesia, dalam tulisan kenangannya di Portalnusa, bercerita pernah diuji Sjamsul saat wawancara kerja. Ia diminta menulis berita dari kisah kecelakaan fiktif di jalan menuju Takengon, Aceh Tengah.

CEO Tribunnews Dahlan Dahi, seperti dikutip Kompas, menyebut Sjamsul sebagai bagian penting dari karakter Tribun Network sebagai lembaga jurnalisme.

Penghargaan

Menurut catatan Portalnusa, Sjamsul Kahar bersama almarhum H Harun Keuchik Leumiek mendapat penghargaan sebagai Pekerja Pers Sejati Aceh pada 2021.

Sebagai Pemimpin Umum Harian Serambi Indonesia, ia juga menerima penghargaan dari Syarikat Islam (SI), sebagaimana diberitakan Serambinews.

Saksi Tiga Zaman

Sjamsul Kahar mengalami perjalanan Indonesia dari masa Orde Baru, Reformasi, hingga era demokrasi digital. Ia juga menyaksikan perubahan media dari surat kabar cetak ke portal berita dan media sosial.

Menurut Kompas, warisannya tidak hanya Serambi Indonesia. Ia juga meninggalkan tradisi jurnalistik dan keberanian menjaga ruang informasi bagi masyarakat. (fns)

Redaksi : acehnarasi.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.